
Lebih dari itu, telinga yang berukuran panjang juga bisa menunjukan umur seseorang. Mudah saja, jika jumlah anting yang menggantung di telinganya berjumlah 60 buah, maka dapat dipastikan umur orang tersebut adalah 60 tahun. Karena memasang anting hanya dilakukan setahun sekali.
Sejak lama saya memiliki niat untuk bertemu langsung dengan suku Dayak bertelinga panjang di kampung asli nya. Dari berbagai informasi yang saya dapat, Kaltim memiliki beberapa tempat yang bisa ditemui orang bertelinga panjang. Diantaranya desa Sungai Bawang dan Pampang di Karang Mumus.

Matahari pagi bersinar hangat saat saya melaju di jalanan beraspal di sekitar pusat kota Samarinda. Sungai Mahakam tampak sibuk dengan segala aktivitas sungai nya. Kapal-kapal pengangkut batubara berseliweran di atas sungai, tak kalah sibuk dengan laju kapal kecil atau ketinting sebutan akrab warga Samarinda. Kota tepian ini tak hanya menawarkan pesona Mahakam, tenun Samarinda, Islamic Center serta Citra Niaga saja, tapi ada banyak hal yang bisa temui di ibukota Kaltim ini. Salah satu tempat menarik yang ingin saya kunjungi adalah Desa Pampang. Sebuah perkampungan tradisional suku Dayak Kenyah yang masih kuat mempertahankan tradisi di tengah-tengah modernitas yang seakan-akan tak mengenal batasan wilayah dan waktu.

Saya tak sendiri. Ditemani salah satu sahabat di Samarinda, saya menumpang sepeda motor saja menuju Pampang. Jarak yang lumayan jauh dari gemerlap perkotaan mungkin menjadi salah satu penyebab kenapa pesona kehidupan di Pampang masih tradisional. Jika Jakarta punya Situ Babakan yang menjadi objek wisata budaya, Kaltim memiliki Pampang. Sejak beberapa tahun lalu, Pampang ditetapkan sebagai desa wisata budaya. Tak heran jika desa yang berada di Kecamatan Karang Mumus ini cukup terkenal dikalangan wisatawan baik domestik maupun asing, khususnya bagi mereka yang pernah ke Kaltim.

Saya harus membayar uang sebesar Rp 15 ribu untuk memasuki kawasan desa budaya Pampang. Sebuah karcis masuk pun akhir nya saya dapatkan. Saya segera melaju ke bangunan utama berupa Lamin adat yang ada disana. Sebuah tangga kecil menyambut saya. Kiri kanannya terdapat ukiran khas Dayak Kenyah yang sangat khas.
Saya mengenal Pampang sudah sejak lama. Termasuk sejarah terbentuknya Pampang yang sangat mengharukan itu. Sekitar tahun 1960 silam, sejumlah warga suku Dayak Kenyah dan Apokayan yang saat itu bermukim di Kutai Barat dan Malinau, menolak untuk berimigrasi ke Malaysia. Mereka tetap memilih hidup di Indonesia meski sebagian dari teman dan keluarga mereka merantau ke Negeri Jiran. Tuntutan ekonomi menjadi salah satu kenapa Malaysia mereka pilih untuk hidup. Namun rupanya, sebagian lagi tetap memilih Kalimantan Timur sebagai tempat tinggal. Rasa nasionalisme terhadap NKRI menjadi pemicu nya. Melalui sebuah perjalanan darat yang panjang dan berpindah-pindah, akhir nya mereka memilih Pampang sebagai wilayah yang akan dijadikan tempat menetap.

Di Pampang, warga Dayak tersebut bertanam, memburu ikan dan binatang hutan serta tentu saja membentuk sebuah perkampungan yang semakin bertambah generasi penerus nya. Hingga jaman modern ini, Pampang masih menunjukan eksistensi nya sebagai salah satu kampung yang kuat akar budaya nya. Pampang telah lama menjadi desa budaya, yakni sejak tahun 1991 silam.
Saat saya berada di Lamin adat, saya terkagum-kagum menyaksikan ornament khas Dayak Kenyah di dinding bangunan utama. Ukiran yang sangat unik dan kuat. Warna kuning dan putih adalah warna yang mendominasi ukiran di dinding kayu tersebut.
Pukul 14.00 Wita, sejumlah tarian pun diperagakan untuk menghibur wisatawan. Pada hari minggu, Pampang rutin mengadakan pertunjukan tari-tarian khas Dayak mulai dari pukul 14.00 hingga 15.00 Wita. Berbagai jenis tarian adat yang dipertunjukkan diantaranya adalah tari Kancet Lasan, tari Kancet Punan Lettu, Hudoq, Manyam dan lain sebagainya. Gadis-gadis cantik dan pemuda-pemuda gagah, dengan semangat menari-nari sambil mengenakan pakaian khas adat Dayak.
Busana yang mereka gunakan pun sangat khas. Motif yang menempel pada busana yang mereka kenakan sangat mencirikan keunikan budaya suku Dayak di Kalimantan. Musik khas Dayak seperti sampek terus membahana di sekitar Lamin adat. Saya terkagum-kagum menyaksikan pertunjukan budaya ini. Tak terkecuali beberapa orang turis asing yang ada di sana.

Beberapa menit kemudian, saya pun berjumpa dengan sahabat-sahabat baru di Kaltim. Saya mengenal mereka melalui forum internet beralamat skyscrapercity. Selama ini kami hanya bersahabat melalui dunia maya, di Pampang lah kami bertemu secara langsung. Kami bersama-sama menikmati sisa pertunjukan tari dan musik oleh warga Pampang.
Acara adat pun kelar. Saya dan kawan baru segera berfoto bersama. Sebuah spanduk kecil bertuliskan nama forum yang kami geluti selama ini, juga tak lupa kami pajang selama berfoto. Anak-anak suku Dayak disana juga kami ajak berfoto bersama. Saya juga berhasil membidikan kamera ke salah seorang suku Dayak yang bertelinga panjang. Anting sebanyak sekitar 40 buah tergantung di kedua buah telinganya. Sungguh pengalaman yang berkesan. Dibalik arus modernitas Samarinda yang semakin gencar, Pampang masih menawarkan pesona budayanya yang bersahaja.
Banjarmasin, 8 Februari 2011

