
Seminggu setelah melakukan perjalanan ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, saya kembali meninggalkan Banjarmasin. Jarak tempuh menuju Lembah Kahung sekitar 7 jam. Perjalanan itu sudah termasuk 2 jam berkendara di jalur darat, 2 jam menyusuri Waduk Riam Kanan dan 3 jam berjalan kaki menuju titik terakhir. Cukup jauh memang, namun pesona alami yang ditawarkan Lembah Kahung rasanya sulit untuk ditolak.

Saya tidak sendiri, ada belasan teman seperjalanan menuju Lembah Kahung. Pagi minggu menyambut kami dengan matahari yang cukup cerah. Saya pun segera membelah Jalan Akhmad Yani yang menghubungkan Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Di persimpangan besar di sekitar Bundaran Simpang Empat Banjarbaru, kami terus mengarah ke Desa Aranio. Disana saya dan kawan-kawan akan mencari kapal yang bisa membawa kami ke Desa Belangian, desa terujung di sekitar Waduk Riam Kanan.

Kapal berukuran cukup besar akhirnya di dapat. Harga sewa sebesar Rp. 300 ribu saja. Langit masih sangat cerah ketika kapal kami membelah Riam Kanan yang tampak cantik. Kiri kanan nya terhampar luas Pegunungan Meratus. Puluhan keramba ikan air tawar tampak berjejer di atas permukaan air Riam Kanan yang berwarna agak kehijauan.

Desa Belangian menyambut kami. Total perjalanan di atas kapal sekitar 2 jam. Sebuah dermaga kecil terlihat menjorok ke tengah danau. Kami segera melompat. Tak menyia-nyiakan waktu, saya bersama rombongan segera trekking menuju Lembah Kahung. Desa Belangian berukuran sangat kecil. Tak ada kendaraan bermotor disini. Suasananya sangat tenang.

Beberapa puluh menit kemudian, jalur trek yang kami lalui adalah berupa hamparan rumput, sisa perkebunan hingga lahan yang bekas terbakar. Hingga akhirnya kami menemui sungai pertama. Di sekitarnya terdapat shelter pertama. Saya agak terkejut, karena tak ada jembatan di sungai ini. Untung saja sungai nya tidak deras, sehingga kami bisa menyeberanginya. Kedalaman air sungai sekitar 30 centimeter saja. Saya pun berpas-pasan dengan salah seorang penduduk setempat yang tengah asyik menggiring kerbaunya. Kerbau tersebut dijadikan sebagai alat pengangkut kayu. Di dasar sungai, saya kerap kali menginjak batu alam di bawahnya. Jika tidak hati-hati, bukan tidak mungkin saya dan kawan-kawan terjungkal ke air.

Daratan kembali kami tapaki. Kali ini kami menemui lahan kosong yang disana kami bisa menyaksikan hamparan perbukitan hijau yang sangat indah. Bahkan sebuah hamparan rumput hijau kami temui di sebelah kanan jalan. Rumput hijau tersebut tumbuh subur di atas sebuah bukit. Mengingatkan saya pada foto yang sering muncul di Microsoft pada komputer. Saya pun dengan semangat bertahan di sekitarnya. Sayang rasanya jika tempat sebagus itu jika tidak dinikmati. Lensa kamera saya pun berkali-kali saya bidikan.

Kami kembali berjalan di jalur setapak. Kiri kanan jalan, saya banyak menemui pohon-pohon cabe bertebaran. Tampaknya penduduk setempat mengalami surplus cabe. Karena buahnya sangat banyak.
Dua jam perjalanan membawa kami pada shelter kedua. Di sebelah kanan jalur, saya menemukan dua buah bangunan mirip gazebo. Di sekitarnya terdapat hamparan sungai berbatu-batu. Kami terus melaju. Karena tujuan kami adalah air terjun di Lembah Kahung. Menurut informasi di internet, air terjun tersebut memiliki tingkatan sekitar 8 tingkat. Saya membayangkan, pemandangannya pasti sangat indah.

Namun setibanya di Hutan Kahung, saya dihadang segerombolan lintah liar yang cukup menjijikan. Lintah berwarna coklat itu sangat agresif. Setiap ada suhu panas yang berasal dari tubuh manusia, lintah-lintah tersebut akan mencari sumber panas itu. Tak tanggung-tanggung, lintah tak hanya menempel di tubuh saja. Tujuan utamanya adalah menghisap darah manusia.
Gigitannya menancap kuat di kulit saya. Melihatnya, saya sangat jijik. Belasan teman lainnya juga panik diserang binatang yang hanya bisa hidup di lahan basah itu. Ditengah kepanikan, saya dan kawan-kawan mencoba untuk membunuh lintah yang menempel di kaki dengan cara menaburi garam. Jika tidak mempan, kami terpaksa membunuhnya dengan cara memukulnya. Darah segar pun akan keluar dari tubuhnya.

Saya segera berlari keluar Hutan Kahung. Jalan licin tak lagi kami hiraukan. Karena semakin banyak lintah bermunculan. Niat mengunjungi air terjun kami urungkan. Kami tidak mau mengambil resiko terlalu banyak diserang lintah. Pesona hutan khas Kalimantan hanya sesaat kami nikmati. Jejeran pohon berukuran raksasa tak sempat saya foto. Ancaman lintah memaksa saya untuk tidak beraktivitas lebih banyak di hutan basah itu.
Hingga akhirnya saya dan rombongan beristirahat di shelter kedua di tepi sungai berair jernih. Ternyata beberapa lintah masih menempel di kaki saya. Tubuhnya tambun karena terlalu banyak menghisap darah saya. Trip kali ini benar-benar berbeda. Saya baru kali ini menemui alam yang banyak lintah di dalamnya. Bosan rasanya kalo hanya mengurus soal lintah, saya pun segera mengganjal perut dengan roti dan minuman beraroma jeruk. Salah satu teman seperjalanan, menjadikan roti tawar dan pisang sebagai menu andalan di Lembah Kahung.

Sungai alami di samping shelter menggoda saya untuk segera bercebur. Air nya sangat dingin dan jernih. Mirip Sungai Amandit di Loksado. Arus deras sungai yang bertemu ratusan batu di sekitarnya menciptakan pecahan air sungai yang sangat indah. Jeram-jeramnya terlihat cukup berbahaya. Saya merasa puas dengan apa yang saya dapat di Lembah Kahung. Meski batal ke air terjun nya. Saya masih berniat, untuk kembali kesini. Bahkan telah menyusun rencana untuk bermalam disini.
Info Akomodasi :
Dari Banjarmasin tujuan Martapura dilayani angkutan L300. Dari Martapura ke Waduk Riam Kanan, dilayani juga angkutan sejenis pick up. Dari dermaga Riam Kanan menuju Desa Belangian menggunakan kapal sewaan seharga Rp 300 ribu. Dari Desa Belangian ke Lembah Kahung hanya bisa dengan berjalan kaki/trekking sekitar 3 jam.
Banjarmasin, 27 November 2010

