Pesona Tenggarong di Malam Hari

Selepas melaksanakan ibadah sholat Maghrib di Islamic Center Samarinda yang sangat megah, saya bersama tiga orang teman segera beranjak ke Tenggarong. Sebuah ibukota kabupaten terkaya di negeri ini. Konon PAD yang berhasil dikeruk Kutai Kartanegara mencapai trilyunan rupiah. Sebuah kekayaan yang sangat kontras dengan PAD beberapa kabupaten di Pulau Jawa yang hanya puluhan milyar.

Kami hanya menaiki sepeda motor ke Tenggarong. Jalan utama yang menghubungkan Samarinda menuju Tenggarong berupa jalan yang meliuk-liuk membelah beberapa perbukitan. Jalan agak gelap dan sedikit menantang. Entah kenapa ratusan Penerangan Jalan Umum (PJU) yang kami lalui tak ada yang menyala. Sedikit ironis mengingat lampu-lampu jalan itu berdiri tegak di kabupaten kaya raya.

Saya juga menemui sebuah lokasi tambang batubaru di sebelah kiri jalan arah Tenggarong. Meski samar-samar, namun saya yakin jika lokasi tersebut merupakan lahan tambang yang masih di eksploitasi. Saya agak sedih mengetahui hal ini, karena lokasi tambang berada tidak jauh dari dua buah kota, yakni Samarinda dan Tenggarong. Bahkan parahnya, tambang emas hitam itu juga pasti mengancam lingkungan sekitar yang merupakan sisa-sisa perambahan hutan masa lalu. Semakin parah saja kondisi alam di sekitar nya.



Atraksi paling popular di Tenggarong adalah memandangi megah nya Jembatan Kartanegara yang membentang di atas Sungai Mahakam di malam hari. Tak seperti kebanyakan jembatan megah di berbagai kota lain di Indonesia, jembataan kebanggaan warga Tenggarong ini dihiasi begitu banyak lampu. Tak heran jika seluruh bentuk jembatan, sangat terlihat jelas di malam hari. Karena ribuan lampu dengan sorot terang terpasang kokoh di setiap lekuk jembatan. Sehingga bangunan jembatan benar-benar sangat cantik dan semarak di malam hari. Bias lampu nya pun memantul indah di atas permukaan air Sungai Mahakam di bawahnya.



Desain jembatan sekilas mirip Jembatan Barito di Banjarmasin. Bahkan banyak yang bilang mirip Jembatan Golden Gate di Amrik. Tiang pancang nya sangat kokoh, dengan warna kuning membungkus baja-baja kuat tersebut. Menancap kokoh hingga dasar Sungai Mahakam, salah satu sungai raksasa di Asia Tenggara. Sungai yang menjadi kebanggaan para backpacker asing maupun lokal untuk menjelajah menggunakan kapal sungai hingga ke hulu nya. Karena katanya banyak objek unik yang ada di hulu Sungai Mahakam, seperti perkampungan Dayak Kenyah, Danau Jempang, Danau Semayang, hingga jeram-jeram menantang. Bahkan jika beruntung, sekumpulan ikan pesut bisa ditemui di beberapa titik di sekitar sungai. Ikan yang sangat langka, yang menjadi ciri khas Sungai Mahakam.

Saya juga mengunjungi Museum Mulawarman, makam-makam raja Kutai, kedaton hingga sebuah masjid tua. Lokasi nya berdekatan. Selain tempat-tempat bersejarah tersebut, saya juga mengunjungi tepian Sungai Mahakam di sekitar Jembatan Kartanegara untuk sekedar makan malam. Menu yang saya pilih adalah lalapan nila goreng. Sambil menyantap lalapan, saya juga bisa menyaksikan kemegahan jembataan kebanggaan warga Kutai tersebut.

Rute :
Kota utama untuk memasuki Kaltim adalah Balikpapan. Bandara Internasional Sepinggan banyak melayani rute pesawat dari berbagai kota termasuk Jakarta. Dari Balikpapan anda bisa menggunakan bis umum menuju Samarinda sekitar 2,5 jam dengan tarif Rp 20 ribu saja. Dari Samarinda menuju Tenggarong hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Sewa ojek ataupun menumpang angkutan umum adalah pilihan yang tepat. Banyak pilihan objek wisata lain di Tenggarong, diantaranya adalah Pulau Kumala, planetarium, dan lain sebagainya.