Pesta Durian di Kampung Dayak Meratus

Salah satu kenikmatan dunia yang tidak saya suka adalah buah durian.Banyak orang yang sangat menggilai buah yang berduri kasar ini.Bagi saya, durian hanyalah buah yang berbau menyengat dan bikin kepala pusing jika kebanyakan menyantap isi nya.Selain itu, durian tergolong buah yang mahal secara ekonomi.Tak seperti buah rambutan yang lebih bersahabat di kantong.

Tapi entah kenapa, di tanggal 17 Januari 2010 lalu saya seakan-akan melupakan kebiasaan saya selama ini yang sangat memusuhi buah durian.Seumur hidup baru kali itu saya menyantap durian di kebunnya langsung dengan porsi yang banyak.Tepatnya di salah satu kebun durian milik teman di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalsel.Sebuah kecamatan yang didominasi oleh penduduk suku Dayak Meratus.Zainal nama pemilik kebun durian itu.Ajakannya untuk berburu durian di Loksado, memaksa saya kembali berkunjung ke Loksado.Padahal 2 minggu sebelumnya saya juga liburan ke kawasan wisata alam yang berada di sekitar Pegunungan Meratus tersebut.

Tepat jam 4 sore, kami memulai perjalanan dengan sepeda motor dari Banjarmasin.Karena masih di bulan Januari yang sering turun hujan, maka selama perjalanan sangat terganggu oleh guyuran air dari langit.Memaksa kami bolak-balik berteduh menghindari air hujan.Alhasil perjalanan terasa sangat panjang.Dan puncaknya, kami mengalami perjalanan yang sangat menantang di sekitar Pegunungan Meratus.Jalan aspal yang menanjak dan menurun, gelap gulita, tak ada penduduk yang dibarengi hujan lebat harus kami lalui.Benar-benar sebuah perjalanan yang sulit dilupakan, demi beberapa buah durian..!

Jam 12 malam kami tiba di Loksado.Rumah Zainal menyambut kedatangan kami dengan aroma durian yang sangat menyengat.Lampu temaram rumah, masih bisa menunjukkan tumpukan durian di salah satu sudut rumah.Tak berlama-lama, Zainal si empu nya rumah sekaligus pemilik durian langsung mengajak kami mencicipi buah berwarna hijau kekuningan itu.



Malam itu juga, si Zainal dan salah seorang kawan nya menuju kebun durian yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah.Saya dan beberapa kawan tidak berniat ikut.Karena badan rasanya lelah sekali.Tak mungkin melakukan trekking ke kebun durian di tengah malam dingin yang gelap.Bantal dan karpet sederhana rasanya sangat cocok untuk menemani sisa malam.



Jam 5 shubuh kami terbangun.Ternyata hasil perburuan Zainal di kebun durian membawa hasil.Tumpukan durian makin bertambah di dalam rumah, aroma nya semakin menyengat.Namun anehnya, saya dan kawan lainnya tetap saja tergoda menyantap durian.Tak peduli malam masih gelap gulita, kami tetap semangat mengadakan pesta durian.



Belum puas menyantap durian di rumah, Zainal kembali ingin berburu durian di kebun miliknya.Kali ini saya dan teman-teman lainnya memutuskan untuk ikut ke kebun.Berbekal penerangan seadanya, kami nekad menerobos jalur trekking yang gelap dan menanjak.Tanah licin dan becek, terasa akrab di kaki.Bahkan, kami juga menemui anak sungai yang harus kami lalui.



Si Taufik yang berasal dari Jakarta, yang terbiasa hidup di kota besar, berkali-kali terpeleset selama trekking.Mungkin, ini pengalaman pertama nya menyusuri hutan dengan kondisi jalan yang ekstrem.Bagi Zainal dan kawan-kawannya sesama pecinta alam, mungkin tak asing lagi dengan kondisi seperti ini.

Beberapa menit kemudian kami tiba di kebun durian.Bunyi debam durian yang jatuh ke tanah seakan-akan membalas perjuangan berat kami menyusuri jalur trek sebelumnya.Tiap beberapa menit, ada saja buah durian yang jatuh dari pohonnya.Dengan tangkas, kami memunguti durian jatuh tersebut.Lalu mengumpulkannya di atas lantai sederhana di dalam pondok kecil milik Zainal.



Beberapa anak suku Dayak Meratus kami jumpai disana.Ternyata mereka juga sedang berburu durian.Merupakan pendapatan tambahan bagi mereka jika sedang memasuki musim durian.Biasanya buah durian dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke Loksado.Meski harganya agak miring, tapi tetap saja hasil dagangannya dapat memberi penghasilan tambahan bagi keluarga suku Dayak Meratus.



Hingga jam 7 pagi, kami masih berkutat di kebun durian.Sesekali kami menyantap buah durian hasil buruan.Meski belum sarapan, kami tetap nekad menyantap durian di pagi buta yang hawa nya sangat dingin.Kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah.Dengan bawaan yang sangat banyak, apalagi kalo bukan memboyong puluhan biji durian.Tas punggung, sarung serta butah (tas tradisional khas Dayak Meratus) menjadi alat yang cocok untuk mengangkut hasil panen durian.



Perjalanan kami akhiri dengan berkunjung ke air terjun Haratai yang air nya sangat deras dan jernih.Perjalanan balik ke Banjarmasin terasa berbeda, karena kami membawa begitu banyak buah durian.Menjadikan kami seperti juragan durian yang akan berjualan di kota.

Banjarmasin, 1 Maret 2010.