Dipandu Aris, acara pembukaan berlangsung lancar.Banyak ilmu yang didapat, karena pengelola museum Bapak Drs. Ikhlas Rudi Prayogo M .Hum begitu lancar dalam memberikan penjelasan tentang sejarah dan perkembangan museum terlengkap di Kalsel itu.Bahkan segala kendala yang dihadapi museum juga dibeberkan kepada puluhan blogger, termasuk saya.
Saya bahkan diberi kesempatan berbicara di depan seluruh peserta yang ada di aula milik museum.Secara singkat saya memberi masukan kepada pengelola museum, diantaranya tentang kegiatan yang melibatkan anak-anak sekolah untuk mau berkunjung ke museum.Harapan saya agar museum tak hanya menjadi bangunan megah yang berisi bukti-bukti sejarah dan budaya Kalsel, tapi menjadi lokasi pembelajaran bagi warga Kalsel maupun wisatawan yang berkunjung.
Kegiatan selanjutnya adalah mengunjungi setiap koleksi yang dimiliki museum.Seperti pintu masuk berupa ukiran khas Banjar yang disekitarnya terdapat kaligrafi Arab.Menurut Bapak Ikhlas, maksud dari ukiran kaligrafi Arab tersebut adalah agar orang yang memasuki sebuah ruangan di dalamnya mendapat pertolongan dari Tuhan.
Tak berhenti sampai disitu, kami juga di berikan pengetahuan tentang karakter wajah asli penduduk Kalsel.Diantaranya Banjar Pehuluan, Banjar Kuala, Dayak Meratus dan lain sebagainya.Dari sana saya menjadi tahu jika Kalsel yang dijuluki Bumi Lambung Mangkurat ini memiliki banyak keunikan, termasuk karakter fisik warganya.
Koleksi berikutnya adalah sebuah miniatur rumah adat Banjar, yakni jenis bubungan tinggi.Dari sana saya dan puluhan blogger lain mengetahui bahwa rumah Banjar jaman dulu mempunyai ruangan khusus untuk “memingit” calon pengantin wanita sebelum pelaksanaan resepsi pernikahan.Ternyata rumah Banjar tak hanya bergaya bubungan tinggi, tapi ada juga rumah Banjar gajah baliku, gajah manyusu, anjung surung, balai laki, balai bini, tadah alas, palimbangan dan palimasan.
Hingga kini rumah Banjar banyak ditemui di seantero Kalsel, termasuk diantaranya di desa Telok Selong Kabupaten Banjar.Oleh pemerintah setempat, rumah Banjar bubungan tinggi yang berusia sekitar 2 abad tersebut telah dijadikan sebagai cagar budaya Kalsel.Selain rumah peninggalan sejarah masa lalu, banyak bangunan milik pemerintah yang bergaya rumah Banjar diantaranya rumah jabatan gubernur dan gedung DPRD Kalsel di Banjarmasin.
Masih di dalam museum, saya kembali menemui koleksi museum yang di dalamnya terdapat berbagai peninggalan ulama tersohor Kalsel, Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari.Ulama yang dijuluki sebagai Datu Kelampayan tersebut telah berhasil mengarang kitab terkenal bernama Sabilal Muhtadin.Secara tersirat, arti dari judul kitab itu artinya adalah jalan menuju kemenangan.
Dari kunjungan singkat itu, saya dan puluhan blogger lain yang tergabung dalam Kayuh Baimbai berharap agar museum kebanggaan urang Banua tetap menjadi destinasi rekreasi untuk mengenal bukti sejarah dan budaya Kalsel.
Harapan yang sama juga di paparkan oleh Abah Arsyad.Bahkan beliau berharap agar sebagai blogger mampu mempromosikan budaya dan sejarah Kalsel termasuk dengan menyebarkan informasi tentang Museum Lambung Mangkurat.Karena menurutnya, produk internet termasuk blog sangat efektif dalam menyebarkan secara luas tentang potensi yang ada di Kalsel.
Buat teman-teman sesama blogger, mari promosikan potensi wisata dan budaya Kalsel, termasuk keberadaan Museum Lambung Mangkurat.
Banjarmasin, 26 Januari 2010









