Kunjungan ke Museum Bersama Blogger Kalsel

Ulang tahun sebuah komunitas tak melulu dirayakan di sebuah restoran mewah atau tempat rekreasi semacam waterboom.Museum pun ternyata bisa menjadi lokasi yang menarik untuk merayakan hari jadi tersebut.Pada hari minggu tanggal 24 Januari 2010, komunitas blogger terbesar di Kalsel mengadakan kunjungan bersama ke museum provinsi di Banjarbaru.Sekitar jam 10 pagi, acara di awali dengan pemaparan singkat tentang museum yang bernama Museum Lambung Mangkurat tersebut.



Dipandu Aris, acara pembukaan berlangsung lancar.Banyak ilmu yang didapat, karena pengelola museum Bapak Drs. Ikhlas Rudi Prayogo M .Hum begitu lancar dalam memberikan penjelasan tentang sejarah dan perkembangan museum terlengkap di Kalsel itu.Bahkan segala kendala yang dihadapi museum juga dibeberkan kepada puluhan blogger, termasuk saya.



Saya bahkan diberi kesempatan berbicara di depan seluruh peserta yang ada di aula milik museum.Secara singkat saya memberi masukan kepada pengelola museum, diantaranya tentang kegiatan yang melibatkan anak-anak sekolah untuk mau berkunjung ke museum.Harapan saya agar museum tak hanya menjadi bangunan megah yang berisi bukti-bukti sejarah dan budaya Kalsel, tapi menjadi lokasi pembelajaran bagi warga Kalsel maupun wisatawan yang berkunjung.



Kegiatan selanjutnya adalah mengunjungi setiap koleksi yang dimiliki museum.Seperti pintu masuk berupa ukiran khas Banjar yang disekitarnya terdapat kaligrafi Arab.Menurut Bapak Ikhlas, maksud dari ukiran kaligrafi Arab tersebut adalah agar orang yang memasuki sebuah ruangan di dalamnya mendapat pertolongan dari Tuhan.



Tak berhenti sampai disitu, kami juga di berikan pengetahuan tentang karakter wajah asli penduduk Kalsel.Diantaranya Banjar Pehuluan, Banjar Kuala, Dayak Meratus dan lain sebagainya.Dari sana saya menjadi tahu jika Kalsel yang dijuluki Bumi Lambung Mangkurat ini memiliki banyak keunikan, termasuk karakter fisik warganya.



Koleksi berikutnya adalah sebuah miniatur rumah adat Banjar, yakni jenis bubungan tinggi.Dari sana saya dan puluhan blogger lain mengetahui bahwa rumah Banjar jaman dulu mempunyai ruangan khusus untuk “memingit” calon pengantin wanita sebelum pelaksanaan resepsi pernikahan.Ternyata rumah Banjar tak hanya bergaya bubungan tinggi, tapi ada juga rumah Banjar gajah baliku, gajah manyusu, anjung surung, balai laki, balai bini, tadah alas, palimbangan dan palimasan.

Hingga kini rumah Banjar banyak ditemui di seantero Kalsel, termasuk diantaranya di desa Telok Selong Kabupaten Banjar.Oleh pemerintah setempat, rumah Banjar bubungan tinggi yang berusia sekitar 2 abad tersebut telah dijadikan sebagai cagar budaya Kalsel.Selain rumah peninggalan sejarah masa lalu, banyak bangunan milik pemerintah yang bergaya rumah Banjar diantaranya rumah jabatan gubernur dan gedung DPRD Kalsel di Banjarmasin.



Masih di dalam museum, saya kembali menemui koleksi museum yang di dalamnya terdapat berbagai peninggalan ulama tersohor Kalsel, Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari.Ulama yang dijuluki sebagai Datu Kelampayan tersebut telah berhasil mengarang kitab terkenal bernama Sabilal Muhtadin.Secara tersirat, arti dari judul kitab itu artinya adalah jalan menuju kemenangan.

Dari kunjungan singkat itu, saya dan puluhan blogger lain yang tergabung dalam Kayuh Baimbai berharap agar museum kebanggaan urang Banua tetap menjadi destinasi rekreasi untuk mengenal bukti sejarah dan budaya Kalsel.




Harapan yang sama juga di paparkan oleh Abah Arsyad.Bahkan beliau berharap agar sebagai blogger mampu mempromosikan budaya dan sejarah Kalsel termasuk dengan menyebarkan informasi tentang Museum Lambung Mangkurat.Karena menurutnya, produk internet termasuk blog sangat efektif dalam menyebarkan secara luas tentang potensi yang ada di Kalsel.



Buat teman-teman sesama blogger, mari promosikan potensi wisata dan budaya Kalsel, termasuk keberadaan Museum Lambung Mangkurat.

Banjarmasin, 26 Januari 2010

Indahnya Pesona Sungai Amandit di atas Ban Mobil

Libur awal tahun tepatnya di tanggal 1 Januari, saya manfaatkan menikmati kembali pesona Pegunungan Meratus di Loksado, sebuah kecamatan yang beberapa tahun ini makin popular di kalangan wisatawan domestik maupun asing.Selain air terjun Haratai & sumber air panas Tanuhi, banyak objek wisata menarik yang ada di kawasan Loksado.Seperti bamboo rafting sepanjang Sungai Amandit dengan menggunakan rakit bambu, kampung Dayak Meratus, balai adat, kampung Buah (kebun adat milik warga Loksado), air terjun Riam Hanai, air terjun Kilat Api, air terjun Pemandian Anggang, acara adat Aruh Ganal dan masih banyak lagi objek lain yang bisa ditemukan di Loksado.

Jika pada kunjungan sebelumnya saya bersama puluhan teman dari berbagai kota menikmati seru nya bamboo rafting, maka kunjungan kali ini saya manfaatkan dengan menjajal petualangan di atas sebuah ban dalam mobil.Hanya perlu Rp. 3 ribu saja, ban berdiameter sekitar 1,5 meter itu bisa saya pakai sepuasnya.Diatas ban mobil itulah saya bersama beberapa teman mengarungi derasnya Sungai Amandit.



Rute yang kami pilih tidak terlalu jauh, mengingat kami tidak menggunakan jasa pemandu selama susur sungai.Maka hanya rute yang kami kenal lah yang dipilih untuk menjajal pesona Sungai Amandit yang air nya sangat jernih itu.Rute pertama yang kami pilih adalah dermaga bamboo rafting di sekitar Wisma Loksado menuju jembatan gantung yang ada di sekitar SMP negeri Loksado.Waktu tempuh sekitar 15 menit.



Jika sudah sampai di titik finish, maka ban mobil segera kami giring ke tepian sungai.Karena arusnya yang sangat deras, maka dengan susah payah kami merapatkan ban mobil tersebut.Dari sana kami kembali ke rute awal di dermaga bamboo rafting, dengan berjalan kaki sambil menggiring ban mobil diatas jalan beraspal.Untuk menghemat waktu, kadang kami berlari-lari kecil sambil memutar ban mobil agar bisa cepat menggelindingnya.




Beberapa menit kemudian, saya bersama teman lainnya tiba kembali di sekitar dermaga.Tapi kali ini, teman saya mengajak rute yang agak jauh sekitar 100 meter dari dermaga.Maka dengan penuh semangat kami lajukan kaki sambil menggiring ban mobil ke arah perkampungan Suku Dayak Meratus yang dihubungkan oleh sebuah jembatan gantung.



Sesampainya di titik yang strategis, kami menemui beberapa anak-anak Loksado yang sedang asyik mandi di Sungai Amandit.Tampaknya mereka sangat menikmati kehidupan sederhana yang mereka miliki.Hidup berdampingan dengan alam yang indah dan asri.Benar-benar kehidupan yang banyak dimimpikan oleh warga perkotaan seperti warga Banjarmasin.



Ternyata anak-anak Dayak Meratus yang kami temui juga bermain diatas ban mobil sambil menceburkan di atas Sungai Amandit.Maka tak ragu, kami ajak mereka untuk mengadakan balap singkat diatas ban mobil.Keceriaan mewarnai perjalanan sepanjang sungai, meski kami belum saling mengenal satu sama lain.Ternyata, kami dikalahkan oleh anak-anak kecil tersebut, dan kami pun terpaksa mengakui kekalahan telak itu.Ban mobil kami kalah cepat dengan ban yang mereka naiki.



Untuk menikmati pesona Sungai Amandit, anda cukup mengunjungi Loksado yang hanya berjarak 4-5 jam perjalanan darat dari Banjarmasin.Jika tak membawa kendaraan pribadi, maka bisa dipilih angkutan umum yang melayani rute Banjarmasin ke Kandangan.Angkutan umum bisa ditemui di Terminal Pal 6 Banjarmasin.Biaya sekitar Rp 30 ribu saja.Setibanya di terminal Kandangan, anda bisa memilih angkutan umum menuju Loksado dengan tarif sekitar Rp 12 ribu.Tapi kata banyak orang, angkutan ke Loksado agak terbatas.Diatas jam 12 siang, sudah tidak ada lagi angkutan umum yang melayani rute Kandangan ke Loksado. Maka anda bisa memilih jasa ojek sepeda motor jika kehabisan angkutan mobil.Jasa ojek dikenakan Rp 50 ribu sekali jalan.



Di Loksado anda bisa menginap di Wisma Loksado dengan tarif Rp 180 ribu untuk 2 orang, Cottage Tanuhi dengan tarif Rp 250 ribu untuk 4-6 orang, atau di Wisma Amandit di Muara Hatip dengan tarif sekitar Rp 200 ribu untuk 2-4 orang.Masing-masing penginapan memiliki pemandangan yang berbeda-beda.Di Wisma Loksado anda akan disuguhi pemandangan Sungai Amandit yang bergemuruh sepanjang waktu, di Cottage Tanuhi terdapat pemandangan kolam renang dan sumber air panas serta perbukitan hijau sedangkan di Wisma Amandit, kamar tidur anda langsung menghadap Gunung Kentawan yang menjulang tinggi serta perbukitan kecil di sekitarnya.



Di sekitar Loksado ada beberapa warung makan sederhana, yang umumnya menyediakan masakan khas Banjar.Rata-rata 1 porsi makanan dikenakan sekitar Rp 10 ribu.Di sekitar Wisma Loksado lah yang paling banyak terdapat warung makan.Selain itu, Wisma Loksado sangat dekat dengan dermaga bamboo rafting, terminal penumpang, pasar Loksado, kios, serta ada lahan parker yang luas dan aman.

Bagi yang mau menyewa ban mobil, maka carilah tempat penyewaannya di sekitar Wisma Loksado.Mengingat letaknya yang sangat strategis, maka tak salah jika saya merekomendasikan anda untuk memilih hotel ini sebagai lokasi menginap selama di Loksado.

Banjarmasin, 5 Januari 2010