Bamboo Rafting di Loksado

Bersama 22 orang teman dari berbagai kota (Jakarta,Bali, Balikpapan, Makassar, Jogjakarta, Banjarmasin), saya mengadakan petualangan di Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.Teman-teman tersebut merupakan anggota milis Indobackpacker, sebuah komunitas online yang anggotanya menyukai dunia petualangan.Beda dengan gaya wisata nya turis atau traveler, para backpacker adalah gaya wisata murah meriah.Mengutamakan kualitas petualangan dengan biaya semurah-murahnya.Belakangan semakin banyak orang-orang yang tertarik berwisata ala backpacker tersebut.

Kami mengawali perjalanan pada tanggal 27 November sekitar jam 6 pagi.Setelah resmi check out dari hotel di kawasan Lambung Mangkurat Banjarmasin, saya dan teman-teman segera meluncur ke Martapura dengan menggunakan dua buah mini bus.Di kota intan tersebut, sebagian dari kami yang beragama Islam akan melaksanakan sholat ied Idul Adha di Masjid Agung Al Karomah.

Kelar menyelesaikan sholat ied, mini bus yang membawa kami segera merayap di atas jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Kalsel menuju Kaltim.Tiga jam kemudian kami tiba di kota kecil Kandangan untuk mencicipi kuliner khas nya, Ketupat Kandangan.Banyak penjual ketupat yang tutup, berhubung masih dalam suasana hari raya kurban.Beruntung tak jauh dari bundaran pertama memasuki kota Kandangan, kami menemui sebuah warung ketupat sederhana yang sudah buka.

Puas menikmati kuliner berkuah santan itu, mobil yang kami tumpangi kembali melaju di atas jalan beraspal.Jalanan sedikit agak meliuk-liuk, karena memasuki kawasan Loksado musti melewati Pegunungan Meratus.Hijau pemandangan dan kesederhanaan beberapa kampung di kiri kanan jalan, membuat perjalanan tak terasa membosankan.
Tiba di Loksado, kami langsung disambut suara gemuruh Sungai Amandit.Ya, di sungai yang memiliki air jernih itulah kami akan ber bamboo rafting.Sebuah wahana wisata yang sangat khas yang ada di Loksado bahkan di Indonesia.Biasanya rafting menggunakan perahu karet, tapi di Loksado cukup dengan menggunakan rakit bambu yang di rancang oleh suku Dayak Meratus.



Delapan buah rakit bambu telah siap di sekitar dermaga, masing-masing dari kami segera menuju tepian Sungai Amandit.Setiap rakit akan diisi tiga penumpang dan satu orang joki rakit bambu.Dengan cekatan, joki rakit menggiring kami mengarungi aliran Sungai Amandit yang cukup deras.Bebatuan besar maupun kecil setiap saat menghadang rakit kami.Tapi berkat kelihaian joki rakit, pengarungan sungai tetap aman.



Selama 2,5 jam mengarungi sungai, pemandangan yang kami temui sangat luar biasa.Mulai dari perbukitan hijau, rumah-rumah panggung suku Dayak Meratus, jembatan gantung, ladang hingga aktivitas suku Dayak Meratus seperti mandi, bercocok tanam dan mencari ikan di sungai.




Gemuruh Sungai Amandit terus terdengar, menambah alami suasana.Sesuatu yang langka kita temui di kota besar.Sesekali cipratan air nya menghantam badan saya.Pakaian pun sebagian telah basah terkena air sungai.



Bagi penggemar fotograpi, Loksado khususnya sepanjang Sungai Amandit adalah lokasi yang cocok untuk sekedar hunting foto.Mulai dari landscape hingga human interest.Salah satu teman saya, Tommy dari Jakarta sengaja membawa peralatan kamera ke Loksado untuk mencari objek foto.Begitu pun teman-teman lainnya.




Wahana bamboo rafting di kenakan biaya sebesar Rp 200 ribu untuk sekali jalan.Rute nya adalah dermaga bamboo rafting di sekitar Wisma Loksado hingga desa Tanuhi.Satu buah rakit bambu bisa digunakan untuk tiga penumpang sekaligus.Jika debit air sungai normal, maka bisa menampung empat penumpang sekaligus.



Waktu ideal merasakan bamboo rafting adalah sekitar bulan Desember hingga Juni.Karena jika memasuki musim kemarau, air Sungai Amandit akan menyusut.Sehingga mengurangi jeram-jeram di sepanjang sungai.Karena semakin banyak jeram, semakin dahsyat pengalaman bamboo rafting tersebut.




Untuk melihat lebih banyak foto-foto bamboo rafting di Loksado, silakan klik tautan ini :

Klik disini

Foto-foto dalam tautan tersebut adalah hasil jepretan salah seorang sahabat dari Bali bernama Tommy.

Banjarmasin, 14 Desember 2009