Berkunjung ke Pulau Sebuku

Kalimantan kembali menunjukan keindahannya.Kali ini saya mengunjungi sebuah pulau yang ada di pesisir Kalimantan, tepatnya di Pulau Sebuku, Kab Kotabaru,Kalsel.Sekitar 12 jam perjalanan darat dari Banjarmasin.

Dengan melewati jalur darat antara Banjarmasin - Batulicin.Kemudian dilanjutkan dengan menumpang kapal fery menuju pelabuhan Tanjung Serdang, Kotabaru.Setelah itu, mobil yang saya tumpangi kembali menyusuri jalur darat menuju Kotabaru.Disana saya, harus kembali mencari tumpangan berupa speed boat menuju Sungai Bali, ibukota kecamatan Pulau Sebuku.



Sepanjang perjalanan menuju Pulau Sebuku, saya seringkali menemui bagang-bagang milik nelayan setempat.Bagang-bagang itu dibangun diatas lautan, yang berfungsi untuk menangkap ikan.Laut lepas berwarna kebiru-biruan serta hamparan pegunungan di sekitar Kotabaru adalah pemandangan lain yang saya temui selama berada diatas speed boat yang melaju kencang.



Oh iya, dalam perjalanan menuju Pulau Sebuku ini, saya tidak sendiri.Lagi-lagi saya mengajak rekan dari luar Banjarmasin.Rekan bernama Gunadi yang berasal dari Samarinda adalah seorang sahabat yang juga tergabung di komunitas backpacker Indobackpacker dan Fadil yang berasal dari Jakarta.

Sesampainya di pelabuhan Sungai Bali, kami langsung menemui salah seorang karyawan perusahaan pertambangan batubara di Pulau Sebuku.Kami diberi fasilitas penjemputan dengan menggunakan mobil perusahaan.

Tujuan kami selanjutnya adalah desa Sekapung yang berada di sisi selatan Pulau Sebuku.Perjalanan kembali kami tempuh dengan membelah Pulau Sebuku.Tercatat ada sekitar 7 desa yang kami lewati selama perjalanan.

Akhirnya kami tiba di sebuah lokasi dimana mata saya sangat dimanjakan oleh hamparan laut biru dengan latar perbukitan hijau di sisi lainnya.Sebuah pemandangan yang sangat indah.



Tak lama kemudian, kami kembali melanjutkan perjalanan untuk menemui Bapak Hafid.Beliau adalah kepala desa Sekapung, yang rumahnya akan kami tumpangi selama berada di Pulau Sebuku.

Ternyata aslinya, Bapak Hafid sangat ramah.Kami langsung dijamu beberapa penganan dan minuman segar.Padahal ini merupakan pertemuan perdana kami.Tapi rasanya seperti telah saling kenal sejak lama.Setelah asyik berbincang-bincang, saya pun mengajak teman seperjalanan untuk segera menjelajahi sudut-sudut menarik di sekitar desa Sekapung.



Pantai yang terdapat di desa Sekapung memiliki karakter yang unik.Seperti adanya bebatuan dan pasir yang berwarna agak kekuningan.Dengan latar langit berwarna biru.



Saat itu, air laut sangat surut.Sehingga kami menemui sebuah jembatan yang dibawahnya tidak ada air sama sekali.Bahkan beberapa speed boat dan kapal nelayan milik warga juga teronggok kaku diatas pasir.



Kami juga sempat berfoto dengan Kades Sekapung, Bapak Hafid.Melalui blog ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bpk Hafid dan sekeluarga atas tumpangannya.



Hamparan pasir putih kembali menggoda saya dan teman-teman untuk segera menjelajah pantai.Betapa kaya nya Indonesia, segala jenis keindahan ada di negeri khatulistiwa ini.



Banyak pengalaman berharga yang saya temui selama berlibur di Pulau Sebuku, khususnya desa Sekapung.Mulai dari keindahan alamnya, keramahan warga hingga kesederhaan yang mereka miliki.Keakraban yang kami bangun antara saya, Gunadi & Fadil juga menjadi kenangan tersendiri bagi saya secara pribadi.Rasanya, belum puas melakukan petualangan bersama mereka.



Dengan berat hati, kami pun meninggalkan negeri kecil nan indah bernama Pulau Sebuku.

Banjarmasin, 29 September 2009

Haratai, Pesona Kampung Dayak & Air Terjun

Keindahan yang tersembunyi.Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan pesona desa Haratai di Kecamatan Loksado, Kab. Hulu Sungai Selatan ini.Di desa yang didiami oleh suku Dayak Meratus ini terdapat berbagai objek menarik yang cocok untuk dijelajahi.

Bersama 3 orang teman, saya lajukan kendaraan menuju desa yang berada disela-sela megahnya Pegunungan Meratus yang membentang di sebagian besar wilayah Kalsel.Kota terakhir yang kami jumpai adalah Kandangan, sebuah kota kecil yang merupakan ibukota Kab. Hulu Sungai Selatan.

Dari Kandangan, perjalanan masih menyisakan sekitar 38 kilometer atau sekitar 1 jam.Melewati berbagai desa seperti desa Muara Hatip, yang lokasinya berada di sekitar Gunung Kentawan yang tampak menjulang.Umumnya desa-desa yang tampak bersahaja itu didominasi oleh suku Banjar dan suku Dayak Meratus.Mereka hidup berdampingan secara damai.Berbagai sarana ibadah pun tampak kokoh, menandakan betapa rukun nya hidup di pedalaman Kalimantan ini.

Sebuah pintu gerbang menyambut kedatangan kami, menandakan perjalanan telah memasuki kawasan Loksado.Sebuah kecamatan yang hampir setiap pekan di kunjungi oleh turis asing terutama dari negara-negara Eropa.Loksado terkenal cocok untuk menjajal hobi petualangan seperti bamboo rafting, trekking, camping, hiking dan lain-lain.

Salah satu nya desa Haratai yang saya kunjungi ini.Dari pusat Loksado, perjalanan dengan kendaraan roda dua dapat ditempuh sekitar 30 menit.Selama perjalanan kami melewati pemandangan alam yang sangat cantik & natural.Hutan, sungai, bebatuan besar, jembatan gantung, bukit-bukit, kebun kayu manis & bambu serta beberapa rumah Dayak Meratus.



Sesampai nya di desa Haratai, kami langsung menemui puluhan rumah berbentuk panggung milik suku Dayak Meratus.Beberapa warga pun kami jumpai disana.Ada yang sekedar duduk-duduk santai di pelataran rumah bahkan ada yang terlihat asyik mengurusi tanaman di sekitar rumah mereka.Bahkan kami sempat menemui beberapa tanaman anggrek khas Loksado.

Disudut lain, ada sebuah bangunan besar yang disebut warga sekitar Balai Haratai.Saya pun tergerak untuk segera memasuki ruangan yang tak berpenghuni itu.Di dalam balai terdapat puluhan bilik kamar berukuran kira-kira 3 x 4 meter.Di berbagai perkampungan Dayak lain seperti di Kalimantan Barat, warga Dayak mendirikan rumah panjang seperti ini yang di dalamnya dihuni oleh puluhan kepala keluarga.



Tapi Balai Haratai yang saya temui ini katanya sudah tidak berpenghuni lagi.Hanya pada saat-saat tertentu saja diramaikan oleh warga Dayak Meratus.Seperti pelaksanaan acara adat Aruh Ganal.Sebuah perayaan yang digelar untuk mensyukuri hasil panen.



Warga Dayak umumnya sangat menghormati roh-roh nenek moyang.Pengetahuan tentang bertani, ilmu gaib, dan sebagainya selalu dikaitkan dengan kepercayaan terhadap roh-roh.

Selain itu mereka juga sangat menghargai limpahan alam yang mudah ditemui di bumi Kalimantan.Seperti yang saya temui di desa Haratai ini.Untuk mendapatkan air, mereka cukup memanfaatkan air bersih yang datang dari pegunungan.Sistem pengairan yang digunakan sangat sederhana, yakni dengan menggunakan bambu yang dibelah.Bambu-bambu tersebut saling menyambung sehingga dapat mengalirkan air dari pegunungan menuju rumah penduduk.



Uniknya, air jernih yang alami tersebut mengalir selama 24 jam non stop.Benar-benar perpaduan yang sangat indah antara manusia dan alam.Saya sangat kagum terhadap kehidupan bersahaja milik warga Dayak Meratus ini.Hidup di rumah-rumah yang sederhana pula.



Berkunjung ke desa Haratai tidak lengkap jika tak mengunjungi air terjun yang juga dinamai Haratai.Lokasinya sekitar 1,5 kilometer dari Balai Haratai.Untuk menuju ke air terjun ini, kami harus melakukan perjalanan tanpa kendaraan.Waktu yang kami tempuh sekitar 20 menit.Melewati berbagai jenis pohon serta sebuah jembatan gantung yang dibawah nya terdapat Sungai Amandit.



Sesampainya di air terjun Haratai, saya bersama rombongan segera mendekati sebuah telaga yang air nya bergelombang mirip di lautan.Karena tekanan yang berasal dari jatuhnya air dari atas bukit.Air di telaga tersebut berwarna agak kehijauan dan sangat dingin.



Loksado dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum.Setibanya di Loksado anda bisa melanjutkan perjalanan menuju Haratai dengan 3 cara saja.Menggunakan jasa tukang ojek, menggunakan kendaraan roda dua milik pribadi atau jalan kaki.Karena akses menuju desa Haratai tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.Tarif sewa ojek sebesar Rp 50.000 PP.

Banjarmasin, 5 September 2009