Ternyata disana digelar upacara adat warga Dayak Meratus.Maka berangkat lah saya bersama tiga orang teman.Mereka semua merupakan teman yang kenal lewat internet, salah satu diantaranya adalah Jefri (Jakarta) yang saya kenal via Milis Indobackpacker.Dua teman lainnya adalah seorang fotograper Banjarmasin bernama Andri dan seorang karyawan asal Jakarta bernama Heri.Kami janjian kopi darat alias ketemuan pada jam 3 sore tanggal 13 Juni 2009 di depan Hotel Pandansari Banjarmasin dan langsung meluncur ke Loksado.
Sekitar pukul 8 malam, kami akhirnya tiba di Desa Tanuhi, Loksado.Suasana hening dan dingin segera kami rasakan.Disana-sini terlihat sangat gelap, hanya lampu-lampu temaram milik beberapa rumah penduduk saja yang terlihat menyala.Kami langsung menuju Desa Malaris yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Desa Tanuhi.
Ternyata di Balai Malaris, sudah banyak pengunjung yang meramaikan acara adat tersebut.Karena balai megah yang berbentuk rumah khas Dayak Meratus tersebut merupakan pusat pelaksanaan Aruh Ganal.Disana kami menemui Pak Amat.Seorang asli Dayak Meratus yang berprofesi sebagai guide di Loksado.Ternyata ada 3 orang turis asing yang menjadi tamu Pak Amat.Mereka berasal dari Irlandia & Amrik.
Beberapa menit kemudian, acara Aruh Ganal pun dimulai.Bunyi-bunyian dan ucapan mantra segera diperdengarkan.Aruh Ganal digelar sebagai tanda ucapan syukur warga Dayak Meratus atas hasil panen.Serta sebagai ajang doa bersama warga Dayak Meratus agar pada panen berikutnya lebih banyak hasil yang didapat serta dijauhkan dari hama perusak tanaman.
Saat berlangsung, beberapa Balian turut meramaikan Aruh Ganal.Balian merupakan kumpulan beberapa warga Dayak Meratus yang mengetahui seluk beluk upacara serta pengetahuan tentang adat istiadat.Mereka dapat mengucapkan mantra yang sangat panjang.Biasanya Balian tersebut berguru pada Balian Tuha dan belampah (semacam semedi terhadap berbagai roh halus untuk mendapatkan kesaktian tertentu).
Selama acara Balian tersebut akan dipimpin oleh Pangulu Adat (Penghulu Adat).Setiap Balian akan didampingi beberapa orang Panjulang. Panjulang adalah wanita Dayak Meratus yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian.Bahkan Panjulang dapat mengajukan berbagai permohonan warga Dayak Meratus.
Selain beberapa orang Pangulu Adat, Balian dan Panjulang, Aruh Ganal juga diramaikan oleh banyak nya sesaji berupa makanan khas, langgatan (induk ancak dan sesaji) serta beberapa buah gendang khas Dayak Meratus.
Nantinya sesaji berupa Lamang (ketan yang dimasak dengan teknik tertentu) dan makanan lainnya akan dimakan setelah semalam suntuk dibacakan mantra.Yang berhak menyantap sesaji tersebut hanya warga Dayak Meratus yang menggelar acara Aruh Ganal.
Ket.Foto terakhir adalah hasil jepretan Jefri.
Saya bersama rombongan termasuk turis Amrik & Irlandia yang ada disana hanya bisa gigit jari nggak bisa mencicipi lamang tersebut.Tapi nggak apa-apa, toh kami sangat puas dan terhibur oleh acara Aruh Ganal tersebut.Benar-benar sangat unik, mistik, kekeluargaan dan sederhana.
My blog in ENGLISH, click here.
Banjarmasin, 18 Juni 2009


