Secercah Harapan di Jembatan Rumpiang

Bumi Kalimantan telah sekali lagi memiliki jembatan megah.Bagi Kalsel ini merupakan jembatan megah kedua setelah Jembatan Barito.Pedalaman Sungai Barito di sekitar Kota Marabahan Kabupaten Barito Kuala (Batola) kali ini yang mendapat hadiah dari pemerintah berupa jembatan yang megah.Saking megahnya, jembatan yang bernama Jembatan Rumpiang itu, terlihat sangat angkuh di atas gerak lambat arus sungai.



Membentang ratusan meter hingga menyeberang sisi sungai lainnya.Tak pelak lagi, banyak warga Kalsel yang memanfaatkan jembatan ini sebagai objek wisata baru.Selain dapat mengagumi desain jembatan yang cantik, pengunjung juga bisa menyaksikan pepohonan hijau yang membentang di sekitar jembatan.Aktivitas di Sungai Barito pun menawarkan hal menarik bagi pengunjung, terutama bagi mereka yang bosan dengan suasana perkotaan.

Sesekali kapal pengangkut batubara, perahu tradisional serta perahu kecil berupa ‘klotok’ melintas dibawahnya.Ada juga angkutan sungai (sejenis bis air) yang melaju menuju pehuluan seperti Marabahan, Negara, Margasari bahkan Buntok di Kalteng.Bagi yang menyukai petualangan menyusuri sungai hingga pedalaman, kayaknya bis air ini layak dicoba.Saya pun punya rencana trip melalui jalur sungai ini.Entah kapan rencana itu bisa terwujud…



Kembali ke soal Jembatan Rumpiang, selain bisa dijadikan sebagai sarana objek wisata, jembatan ini tentu saja dibangun untuk memudahkan warga menuju Kota Marabahan atau sebaliknya.Karena dulu sebelum jembatan dibangun, warga harus menyeberang sungai dengan menggunakan ferry tradisional di sekitar Sungai Gampa.

Diharapkan juga melalui jembatan yang menghabiskan dana sekitar 200 milyar ini bisa memacu pertumbuhan ekonomi di sekitar jembatan terutama Kota Marabahan.Karena selama ini kota yang berjuluk Kota Bahalap tersebut masih sangat ketinggalan bila dibanding kota kabupaten lain di Kalsel.Alasan klasik memang menjadi pemicu ketertinggalan Marabahan atau Batola pada umumnya.Apalagi kalo bukan soal kekayaan alam, yang ujung-ujungnya berimbas pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).



Jika kabupaten lain dikenyangkan oleh batubara yang melimpah, bijih besi yang mulai menggiurkan, hasil laut yang beragam, sektor jasa yang padat atau destinasi wisata yang sudah mapan, Batola masih menggantungkan PAD hanya dari retribusi-retribusi saja.Seperti retribusi yang dibebankan pada kapal pengangkut batubara yang melewati wilayah Batola, yang kita tahu kalo kapal pengangkut batubara itu berasal dari daerah lain.

Asal tahu saja, Batola hanya mampu mengumpulkan PAD sekitar 2 Milyar saja pertahun.Informasi itu saya dapatkan langsung dari keluhan yang dilontarkan oleh salah satu warga Marabahan.Bandingkan dengan kabupaten lain yang mampu meraup puluhan hingga ratusan milyar.Jangan heran jika warga Batola ada yang bilang kalo Batola masih harus ‘menyusu’ dengan pemerintah pusat.Seperti yang saya dengar langsung oleh salah satu warganya saat sama-sama menikmati semilir angin diatas jembatan.

Dan jangan bandingkan dengan kabupaten terkaya yakni Kutai Kartanegara di Kaltim yang sangat gemuk dengan PAD triliyunan rupiah setiap tahunnya.

Harapan saya pun melambung tinggi saat menikmati suasana sambut malam diatas megahnya Jembatan Rumpiang.Saya yakin harapan warga Batola lainnya, juga dibebankan pada jembatan yang berjarak sekitar 1 jam dari Banjarmasin ini.



Harapan bisa terpacunya pertumbuhan ekonomi serta dunia kepariwisataan di Batola yang memang sangat minim.Kenapa saya bilang minim objek wisata, karena saya menyaksikan langsung kehidupan warga Marabahan yang hanya puas bersantai di taman kecil di bantaran Sungai Barito atau tepatnya di depan rumah dinas Bupati Batola.Dengan kondisi yang sangat sederhana seperti tidak dilakukannya peremajaan fasilitas taman, pepohonan yang tidak beragam serta koleksi binatang yang ada disana juga sangat terbatas.Hal ini tentu juga akan mempengaruhi tingkat pembelajaran warga terutama anak-anak terhadap pentingnya menyayangi lingkungan termasuk binatang.

Dan tentu saja melalui momentum Visit South Kalimantan 2009 yang tengah bergulir, kita jadikan Jembatan Rumpiang sebagai salah satu tonggak kebangkitan dunia kepariwisataan Batola serta Kalsel pada umumnya.

Sekedar info aja, postingan saya berjudul Visit South Kalimantan 2009 : Sebuah Asa & Optimisme
akhirnya menyabet juara 3 pesta blogger Kalsel di Aruh Blogger 2009.Melalui postingan ini, saya pengen ngucapin makasih buat sahabat blogger Kalsel terutama yang tergabung dalam Kayuh Baimbai, panitia Aruh Blogger dan semua sahabat blogger di manapun.

My blog in ENGLISH, click here.

BBB

Judul diatas bukanlah merujuk pada grup vokal asal Jakarta yang bersuara pas-pasan.Dimana lagu-lagunya hanya memerlukan teknik vokal yang sangat rendah.BBB pada judul postingan ini merupakan singkatan Barambai Bali nya Borneo atau bisa juga Borneo Berasa Bali.He…



Pura Agung di Barambai

Desa Barambai sekilas mirip Bali.Kenapa saya bilang mirip Bali, tidak lain & tidak bukan karena Desa Barambai dihuni oleh sebagian besar penduduk keturunan Bali.Yang notabene juga beragama Hindu Bali.Mereka secara turun temurun menetap di desa yang berjarak sekitar 2,5 jam dari Banjarmasin tersebut.

Otomatis kehidupan mereka pun kurang lebihnya berbudaya adat Bali.Seperti penamaan keturunan.Ada yang bernama Ketut, Kadek, Arya dll.Tidak hanya itu, setiap halaman rumah pun dilengkapi dengan ukiran dari batu atau kayu sebagai alat untuk menaruh perlengkapan ibadah.



Benda yang selalu ada di tiap rumah di Barambai

Di Barambai juga memiliki pura besar yang bernama Pura Agung Widya Natha.Disini menjadi sentral peribadatan umat Hindu Bali yang ada di salah satu desa di Kabupaten Barito Kuala, Kalsel tersebut.

Penduduk disini rata-rata menggantungkan hidupnya sebagai petani.Mereka berdampingan secara damai dengan warga Suku Banjar, Jawa dll.Saat saya backpacking ke Barambai, keramahtamahan lah yang saya dapatkan.Setiap saya menanyakan sesuatu, selalu dijawab dengan tulus.

Seperti 3 anak keturunan Bali yang saya jumpai disana.Anak-anak yang masih bersekolah SD tersebut bahkan sangat lancar berbahasa Bali.Saat saya menanyakan sesuatu, mereka pasti akan menjawab dengan ramah.Logat Bali nya sangat terasa.



Anak-anak keturunan Bali

Beberapa bulan terakhir, Desa Barambai menjadi bahan perbincangan yang hangat oleh warga Kalsel.Bahkan media nasional maupun asing juga tidak mau ketinggalan dengan apa yang terjadi di Barambai.

Lumpur Barambai lah yang menjadi pemicu kehebohan warga & media.Lumpur Barambai merupakan fenomena alam yang sangat aneh.Dimana lumpur dingin keluar dari perut bumi secara terus menerus.Seperti air mendidih yang menggelembung.



Lumpur Barambai

Dulunya lumpur ini masih sangat kecil.Muncul di halaman rumah salah satu warga setempat.Lama kelamaan kubangan lumpur semakin membesar.Sehingga rumah yang ada disekitarnya dibongkar total.

Saat awal kejadian, lumpur ini banyak dikunjungi oleh warga Kalsel.Bahkan turis dari China, katanya juga pernah menyaksikan fenomena unik ini.

Kalangan akademisi seperti tim ahli ITB, juga pernah meneliti Lumpur Barambai.Usut punya usut ternyata lumpur mirip kopi susu ini mengandung gas metana.Tidak hanya itu, emas hitam alias batubara pun sering keluar bersamaan dengan lumpur.

Banyak yang bilang, kalo kandungan alam di Barambai sangat melimpah.Kekayaannya melebihi kabupaten-kabupaten lain di Kalsel yang lebih dulu dieksplorasi.

Gubernur Kalsel pun telah mengundang investor asing guna memaparkan kandungan alam yang ada di Barambai.

Dan lagi-lagi alam Kalsel terancam akan dikoyak-koyak.Itulah salah satu dampak yang harus kita tanggung jika berbicara soal ekonomi.

Namun ada secercah harapan, semoga kelak jika Lumpur Barambai benar-benar dieksplorasi dapat meningkatkan taraf hidup warga sekitarnya.

My blog in ENGLISH, click here.