Menikmati Sunset di Pantai Takisung

Sebenarnya ide jalan-jalan di hari pelaksanaan Pemilu bukanlah ide dari saya pribadi.Tapi bermula dari seorang kawan bernama Mas Thoyib yang kebetulan memiliki masa libur kerja selama 3 hari.Ia beralasan kenapa tidak dimanfaatkan buat jalan-jalan, kalau libur kerja ada di depan mata.Maka berangkatlah saya, Mas Thoyib, Mba Wati, Mas Teguh, Mas Anas, Dapot, Anita, Dhani, Heri (Hersant), Saleh, Budi dan Desy.

Hingar bingar pelaksanaan Pilpres 2009, tak menyurutkan saya dan teman-teman untuk mengisi hari libur Pemilu.Banyak diantara kami yang golput, karena berbagai alas an.Yang utama adalah karena tidak terdaftar dalam DPT.


Ada dua objek wisata yang kami jelajahi, yakni Air Terjun Bajuin & Pantai Takisung.Tapi yang bahas pada postingan ini adalah tentang Pantai Takisung (khususnya suasana sunset nya).Banyak hal seru yang terjadi sebelum, saat dan setelah jalan-jalan.Seperti rapat untuk membahas segala tetek bengek transportasi, logistik, waktu dan siapa aja yang mau ikut (rapat itu lebih mirip suasana anak-anak kost kebanyakan yang sedang bergadang di malam mingguan, ribut dan kadang ngawur).Karena disela-sela rapat selalu ada saja yang melucu (yang mengakibatkan Mba Ida pemilik kost nyaris naik ke lokasi rapat untuk membubarkan forum).


Karena dari dulu saya nya sangat menyukai ama suasana matahari terbenam alias sunset, maka dengan ngotot saya menyemangati teman-teman untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Takisung.Meskipun badan pegal-pegal abis trekking, rasanya sunset di Pantai Takisung cukup menjadi alasan untuk tidak memperdulikan rasa pegal di badan itu.




Tapi diperjalanan, kami mampir untuk makan siang di sebuah warung di Jalan Samudra Pelaihari.Dari depan, warung itu terlihat sederhana dan tentunya berbudget murah meriah (prinsip perjalanan ala backpacker harus dipraktekkan saat traveling pada semi tanggung bulan kayak ini).




Seumur-umur baru kali ini saya menemui pemilik warung yang pelayanannya kasar dan ogah-ogahan—niat jualan gak sih bu?—.Masa si Anita numpang sholat aja di bilang ngerepotin dan bla bla bla.Alhasil dengan kalapnya saya tumpahin semua jenis makanan yang ada di piring ke meja makan.Kayak tulang ayam, nasi, bawang goreng, air kobokan dan kecap manis.Rasa kesal itu mengundang kemarahan saya yang berujung pada aksi pemberantakan meja makan.



Kenyang makan dan kenyang memaki-maki ibu pemilik warung makan, kami lajukan kembali mobil Avanza dan Kijang menuju Pantai Takisung.Acara umpat mengumpat terhadap ibu pemilik warung masih berlanjut di dalam mobil.Kenyang yang kami alami, tidak cukup puas untuk menghentikan aksi umpat-mengumpat itu.

Nggak kerasa Pantai Takisung ada di depan mata.Di pos masuk kawasan pantai, kami lolos dari retribusi – kali aja petugas nya lagi sibuk nyontreng, batin saya berucap bahagia –.



Pantai Takisung ternyata dipadati oleh ratusan pengunjung.Parkir sepeda motor dan mobil pun tampak rapat.Sementara matahari siang masih terlihat sangat terik.Tapi tetap aja saya ama teman-teman nekad berjalan-jalan di sekitar pantai.Dan tentu saja ideologi narsisme masih setia mengisi acara jalan-jalan di pantai.Foto-foto pun masih berlanjut.



Sunset yang menjadi salah satu fenomena alam yang saya jagokan, akhir nya datang juga.Matahari berwarna oranye menyala tepat berada di seberang lautan.Kecantikannya sangat-sangat menawan.Apalagi di sekitar pantai yang di dekat kampung nelayan, ada beberapa warga setempat yang asik memanen hasil tangkapan ikan di bibir pantai.Makin asik untuk menjepret sunset dan suasana pantai (nah bagi yang pengen ke Pantai Takisung, mending memilih lokasi di sekitar kampung nelayan yang ada pembangunan jembatan nya.Pasir nya landai, tidak terlalu banyak sampah sialan dan sepi ama wisatawan lain).



Alhasil kami pun sibuk menikmati sunset dan memilih ikan segar untuk dibawa pulang ke Banjarmasin.To all my friends, I just wanna say thanks for all of you.Kebersamaan jauh lebih baik jika dibarengi acara jalan-jalan.

Aruh Ganal Dayak Meratus di Loksado

Pengalaman mengunjungi Loksado kali ini benar-benar lebih mengesankan bila dibandingkan dengan kunjungan sebelumnya.Ada apa sih di Loksado??

Ternyata disana digelar upacara adat warga Dayak Meratus.Maka berangkat lah saya bersama tiga orang teman.Mereka semua merupakan teman yang kenal lewat internet, salah satu diantaranya adalah Jefri (Jakarta) yang saya kenal via Milis Indobackpacker.Dua teman lainnya adalah seorang fotograper Banjarmasin bernama Andri dan seorang karyawan asal Jakarta bernama Heri.Kami janjian kopi darat alias ketemuan pada jam 3 sore tanggal 13 Juni 2009 di depan Hotel Pandansari Banjarmasin dan langsung meluncur ke Loksado.

Sekitar pukul 8 malam, kami akhirnya tiba di Desa Tanuhi, Loksado.Suasana hening dan dingin segera kami rasakan.Disana-sini terlihat sangat gelap, hanya lampu-lampu temaram milik beberapa rumah penduduk saja yang terlihat menyala.Kami langsung menuju Desa Malaris yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Desa Tanuhi.



Ternyata di Balai Malaris, sudah banyak pengunjung yang meramaikan acara adat tersebut.Karena balai megah yang berbentuk rumah khas Dayak Meratus tersebut merupakan pusat pelaksanaan Aruh Ganal.Disana kami menemui Pak Amat.Seorang asli Dayak Meratus yang berprofesi sebagai guide di Loksado.Ternyata ada 3 orang turis asing yang menjadi tamu Pak Amat.Mereka berasal dari Irlandia & Amrik.



Beberapa menit kemudian, acara Aruh Ganal pun dimulai.Bunyi-bunyian dan ucapan mantra segera diperdengarkan.Aruh Ganal digelar sebagai tanda ucapan syukur warga Dayak Meratus atas hasil panen.Serta sebagai ajang doa bersama warga Dayak Meratus agar pada panen berikutnya lebih banyak hasil yang didapat serta dijauhkan dari hama perusak tanaman.

Saat berlangsung, beberapa Balian turut meramaikan Aruh Ganal.Balian merupakan kumpulan beberapa warga Dayak Meratus yang mengetahui seluk beluk upacara serta pengetahuan tentang adat istiadat.Mereka dapat mengucapkan mantra yang sangat panjang.Biasanya Balian tersebut berguru pada Balian Tuha dan belampah (semacam semedi terhadap berbagai roh halus untuk mendapatkan kesaktian tertentu).



Selama acara Balian tersebut akan dipimpin oleh Pangulu Adat (Penghulu Adat).Setiap Balian akan didampingi beberapa orang Panjulang. Panjulang adalah wanita Dayak Meratus yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian.Bahkan Panjulang dapat mengajukan berbagai permohonan warga Dayak Meratus.



Selain beberapa orang Pangulu Adat, Balian dan Panjulang, Aruh Ganal juga diramaikan oleh banyak nya sesaji berupa makanan khas, langgatan (induk ancak dan sesaji) serta beberapa buah gendang khas Dayak Meratus.



Nantinya sesaji berupa Lamang (ketan yang dimasak dengan teknik tertentu) dan makanan lainnya akan dimakan setelah semalam suntuk dibacakan mantra.Yang berhak menyantap sesaji tersebut hanya warga Dayak Meratus yang menggelar acara Aruh Ganal.



Ket.Foto terakhir adalah hasil jepretan Jefri.

Saya bersama rombongan termasuk turis Amrik & Irlandia yang ada disana hanya bisa gigit jari nggak bisa mencicipi lamang tersebut.Tapi nggak apa-apa, toh kami sangat puas dan terhibur oleh acara Aruh Ganal tersebut.Benar-benar sangat unik, mistik, kekeluargaan dan sederhana.

My blog in ENGLISH, click here.

Banjarmasin, 18 Juni 2009

From Swedia To Banjarmasin

Dunia maya memang sangat hebat.Berawal dari sebuah foto yang ada di album flickr milik saya, seorang kawan di Swedia sana tertarik mengunjungi Banjarmasin.Foto itu berisi suasana unik & khas Pasar Terapung Lok Baintan.

Kawan itu bernama Bapak Janto Marzuki.Seorang WNI yang menetap lama di negara yang berjuluk The Land of The Viking, Swedia.Pada tanggal 25 Mei 2009 kami bertemu di salah satu hotel di Banjarmasin.Pada hari yang sama kami memburu sunset di sekitar Jembatan Barito.Pak Janto tak menyia-nyiakan kamera mahal yang dia miliki.Sayang disana kami tak bisa menemui monyet berhidung mancung, Bekantan.Disana kami bertemu dengan fotograper asal Banjarmasin bernama Fikri.

Puas hunting foto, saya lalu mengajak Pak Janto & Fikri mencicipi soto Banjar di sekitar Benua Anyar.Sambil menikmati soto Banjar, Pak Janto menceritakan segala pengalaman hidupnya selama di Eropa.Termasuk ketertarikannya di dunia fotograpi & petualangan.



Besok harinya kami langsung menuju Pasar Terapung Lok Baintan di tepian Sungai Martapura.Perjalanan dengan menggunakan klotok, dapat ditempuh sekitar 1 jam.Tepat sekitar 05.30 pagi kami awali perjalanan menyusuri sungai dari depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.Perjalanan ini pun kami lakukan bersama-sama dengan Fikri.

Pak Janto seolah nggak pernah berhenti membidikkan kameranya saat klotok terus melaju.Kehidupan sungai yang sederhana ternyata sangat menarik perhatian Pak Janto yang telah lama hidup di negara maju.

Hobi fotograpi Pak Janto makin tersalurkan saat kami tiba di Pasar Terapung Lok Baintan.Betapa takjub nya ia saat menyaksikan langsung transaksi jual beli di atas sungai.Saya sangat senang melihat ekspresi bahagia Pak Janto selama di Pasar Terapung Lok Baintan.

Destinasi berikutnya adalah Pasar Cempaka.Disana ada sebuah warung penjual ikan patin bakar yang sangat enak.Kelar makan, kami langsung hunting foto di sekitar pasar bawang.Dan langsung menuju pendulangan intan di desa Pumpung, Cempaka.Tapi kali ini saya hanya berdua Pak Janto.Lagi-lagi suasana unik di pendulangan intan membuat takjub Pak Janto.Dapat ditebak, lensa kamera Nikon miliknya nggak dibiarkan begitu saja.

Destinasi terakhir adalah Pusat Pertokoan Permata Cahaya Bumi Selamat di Martapura.Besoknya Pak Janto harus pulang ke Jakarta untuk selanjutnya terbang ke Swedia.

My blog in ENGLISH, click here.

Banjarmasin, 9 Juni 2009

Menjelajah Pulau Pinus di Waduk Riam Kanan

Cerita perjalanan wisata di Desa Aranio Kabupaten Banjar, Kalsel masih berlanjut.Kali ini saya akan membahas perjalanan seru di sekitar Waduk Riam Kanan, tepatnya di Pulau Pinus.Dengan menumpang klotok (perahu kecil bermesin) saya bersama belasan teman lainnya dapat mencapai pulau kecil yang letaknya di tengah-tengah waduk itu.



Sebenarnya di Waduk Riam Kanan terdapat dua buah Pulau Pinus.Biaya sewa untuk menuju Pulau Pinus pertama hanya dikenai sebesar Rp. 75 ribu saja.Sedangkan menuju Pulau Pinus kedua dipatok sebesar Rp. 100 ribu.Berhubung rombongan kami terdiri belasan orang plus masing-masing baru gajian, maka kami dengan entengnya memilih paket yang mahal aja.

Tapi paket itu bisa sekalian mampir ke Pulau Pinus pertama.Rugi rasanya jauh-jauh ke Desa Aranio tanpa mencicipi kedua Pulau Pinus tersebut.Perjalanan menuju Pulau Pinus kedua ditempuh sekitar 30 menit.Cukup singkat memang.Karena pemandangan yang indah di sekitar waduk cukup beralasan menangkis rasa jenuh selama perjalanan.Objek pertama yang berhasil menarik perhatian saya adala jembatan kayu yang membentang panjang di atas waduk.Jembatan itu menghubungkan antara Pulau Pinus dengan daratan di seberangnya.



Beralasan memang kenapa pulau yang kami kunjungi tersebut dinamakan Pulau Pinus.Karena disana banyak sekali pohon pinus yang tumbuh tinggi menjulang.Saking banyaknya, hari cerah saat itu tidak berlaku di Pulau Pinus.Sinar matahari seakan-akan sulit menembus rimbunnya pepohonan.



Di bagian lain saya menemui beberapa penduduk yang tengah asyik memancing.Umumnya ikan yang didapat adalah ikan puyau.Ikan yang lumayan gurih kalau di goreng.Disini dijual dengan harga Rp. 10 ribu saja.Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju perkampungan di seberang pulau.Dengan menyusuri jembatan kayu yang panjangnya sekitar 200 meteran.Dari atas jembatan, saya kembali menemui pemandangan yang sangat cantik.Perbukitan hijau, air waduk yang terhampar luas berpadu dengan langit cerah yang membiru.



Setibanya di kampong seberang, saya bersama rombongan lalu tergoda mencicipi kelapa muda yang banyak ditemui disana.Untung salah teman dalam rombongan ada yang bisa memanjat pohon kelapa.Alhasil dialah yang kami nobatkan sebagai petugas memetik kelapa.Akhirnya dua buah kelapa muda berhasil kami dapatkan.

Beberapa menit kemudian kami kembali menyeberang menuju Pulau Pinus.Karena klotok yang kami sewa masih tambat di pulau itu.Ternyata di atas Pulau Pinus ada rombongan kru TV dari Jakarta yang sedang meliput Waduk Riam Kanan serta Pulau Pinus.Oleh rombongan, saya bersama dua orang teman disuruh ikut syuting dengan cara berjalan-jalan di sekitar pulau.Sementara kru TV akan merekam kegiatan kami itu.Seumur-umur baru kali ini saya direkam oleh kamera TV.



Setelah itu, kami bertiga diwawancarai oleh kru TV tersebut.Kami ditanya dengan berbagai pertanyaan.Seperti alasan apa kami mengunjungi Pulau Pinus.Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan.Dengan percaya dirinya saya langsung memberi alamat blog serta alamat email.Siapa tahu saya ditawari sebagai salah satu kru TV tersebut.Perjalanan di Waduk Riam Kanan kami akhiri dengan minum es kelapa muda di sekitar dermaga Desa Aranio.Disana ternyata banyak sekali mobil wisatawan terparkir di sekitar dermaga.Menandakan geliat pariwisata Kalsel makin bergairah.

My blog in ENGLISH, click here.

Banjarmasin, 16 Mei 2009

Berwisata & Berburu Foto di Waduk Riam Kanan

Kemolekan wajah Nusantara kembali saya temui di Kalsel.Tepatnya di Desa Aranio Kabupaten Banjar.Nama objek wisata yang saya kunjungi kali ini adalah Waduk Riam Kanan.Bagaimana saya tidak terpesona, jika disana banyak sekali objek menarik yang sayang untuk tidak dinikmati.Apalagi tidak diabadikan melalui kamera.



Kali ini saya tidak sendiri.Ada 11 orang teman ikut berpetualang di Riam Kanan.Perjalanan kami mulai dari Banjarmasin sekitar jam 7 Wita di pagi minggu yang sangat cerah.Kota pertama yang kami lewati adalah Banjarbaru.Di bundaran simpang empat, kami arahkan sepeda motor menuju desa Aranio.Dari bundaran itu jarak yang harus kami tempuh sekitar 25 kilometer.

Bukit-bukit terjal di kiri kanan jalan menambah cantik pemandangan.Hamparan sawah yang menghijau serta perkampungan penduduk desa yang terlihat bersahaja semakin memanjakan mata kami yang bosan dengan kehidupan perkotaan.Sesekali kami menemui jalanan sepi yang meliuk-liuk di bawah pepohonan di pinggir jalan.Sungguh sensasi yang nikmat bagi kami yang setiap hari hanya menjajal jalanan Banjarmasin yang penuh sesak laju kendaraan.

Bagi yang belum pernah ke Riam Kanan, mungkin 25 kilometer jarak tempuh yang dilewati akan terasa lama.Tapi bagi saya yang memang menyukai perjalanan darat dan kebetulan saya sudah pernah ke Riam Kanan, rasanya jarak tempuhnya tidaklah terlalu lama.Justru saya sangat menikmati perjalanan tersebut.

Tiba di Riam Kanan kami harus membayar uang masuk sebesar Rp. 1500 per sepeda motor.Sangat murah bila dibanding dengan apa yang akan kami dapat nantinya.Setelah memarkir kendaraan, kami lalu mengunjungi tempat penjualan ikan hasil budidaya masyarakat sekitar.Di Banjarmasin ikan puyau dijual dengan harga Rp 20 ribuan, disini hanya dihargai Rp 10 ribu saja untuk 1 kilogram.Benar-benar murah dan jauh lebih segar.



Puas melihat-lihat transaksi jual beli antara nelayan dan pedagang ikan, kami lalu menuju pelabuhan yang disana banyak ditemui kapal (klotok) berukuran sedang.Dengan klotok itulah kami akan menikmati pesona Riam Kanan.Harga sewa yang harus kami bayar adalah Rp 100 ribu.Karena tujuan yang akan kami tempuh adalah Pulau Pinus kedua (lebih jauh dari Pulau Pinus pertama).



Saat diatas klotok melaju itulah pesona Riam Kanan benar-benar eksotis.Hamparan air waduk yang menghijau, perbukitan yang asri, langit yang membiru serta puluhan rumah terapung adalah paket yang ditawarkan Riam Kanan yang bisa dilihat dari dalam klotok.



Sesekali sampan kecil bermesin terlihat melaju diatas luasnya waduk Riam Kanan.Biasanya mereka membawa ikan hasil tangkapan untuk dijual ke pasar.Betapa nikmatnya kehidupan mereka, karena tinggal di tempat yang masih sangat alami.



Akhirnya perjalanan sekitar 30 menit menuju Pulau Pinus kedua berakhir.Rasanya saya tidak sabar untuk segera menjelajah tiap sudut menarik yang ada disana.Jembatan panjang yang membelah waduk adalah salah satu objek yang berhasil menarik perhatian saya untuk segera membidikan kamera.Objek menarik lainnya adalah rimbunnya ratusan pohon pinus yang menjulang tinggi di tengah waduk.

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan, berwisata bersama belasan teman yang juga lelah dengan rutinitas kerja.Saya yakin puluhan wisatawan lain yang saya temui di Riam Kanan juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kami alami.

My blog in ENGLISH, click here.

Banjarmasin, 28 April 2009

Backpacking to Marabahan

Libur sabtu minggu saya manfaatin backpacking ke Marabahan.Kota kecil yang merupakan ibukota Kabupaten Barito Kuala, Kalsel.Perjalanan sekitar 1,5 jam dari Banjarmasin melalui jalur darat.

Belakangan Marabahan makin santer terdengar, karena sebuah jembatan megah bernama Jembatan Rumpiang berdiri tidak jauh dari kotanya serta ditemukannya lahan gas metana terbesar kedua di Indonesia di Desa Barambai.

Di Marabahan saya menginap di Hotel Budi Berkat di dekat pasar.Jangan bayangkan hotel ini semewah hotel Rattan Inn Banjarmasin atau semahal Hyatt Regency di Jogja.Hotel yang saya inapi adalah hotel murah meriah & sangat sederhana.Kamar mandi aja harus antri ama tamu lain.Tidak ada breakfast nya juga.Tarif kamar yang saya pilih adalah sebesar Rp. 20 ribu aja.

Tapi yang oke dari hotel ini adalah pemandangannya yang langsung menghadap Sungai Barito.Karena lokasinya tepat ditepian sungai.Suara mesin kapal pasti terdengar dari dalam kamar hotel.



View from the hotel

Karena Marabahan sangat kecil, saya cukup berjalan kaki aja untuk berkeliling kota.Ada beberapa lokasi yang saya kunjungi seperti taman siring di sekitar rumah jabatan bupati Barito Kuala.Disana saya bisa menikmati pemandangan Sungai Barito yang sibuk ama aktivitas lalu lalang perahu & klotok.



Transportasi sungai

Malam hari ada beberapa penjual makanan di sekitar taman siring itu.Bahkan ada beberapa warga kota yang sedang asik memancing ikan.Saya juga mengunjungi sebuah pelabuhan yang disana bisa ditemui bis air menuju Buntok Kalteng.Bagi yang pengen berpetualang susur sungai, kayaknya bis air ini cocok juga.Waktu tempuh sekitar 2 hari 2 malam melewati Sungai Barito.Biaya sekitar Rp. 50 ribuan.

Keesokan paginya, saya menjelajah pasar induk yang juga nggak jauh dari hotel tempat saya menginap.Tak jauh beda dari pasar pada umumnya.Rame dan bersahaja.Saya sempat mencicipi sarapan pagi di sekitar pasar itu.

Menjelang kepulangan ke Banjarmasin, saya sempatin berkunjung ke Masjid Agung Al Anwar di Jalan Panglima Wangkang.Sebuah masjid yang kayaknya paling besar di Marabahan.Halaman masjid tepat menghadap Sungai Barito.



Masjid Agung Al Anwar

Akhirnya saya harus meninggalkan Marabahan yang menurut saya masih perlu lebih gencar dalam membangun kotanya.Sebuah PR bagi pemerintah setempat untuk segera dituntaskan.

My blog in ENGLISH, click here.

Banjarmasin, 10 April 2009.

Secercah Harapan di Jembatan Rumpiang

Bumi Kalimantan telah sekali lagi memiliki jembatan megah.Bagi Kalsel ini merupakan jembatan megah kedua setelah Jembatan Barito.Pedalaman Sungai Barito di sekitar Kota Marabahan Kabupaten Barito Kuala (Batola) kali ini yang mendapat hadiah dari pemerintah berupa jembatan yang megah.Saking megahnya, jembatan yang bernama Jembatan Rumpiang itu, terlihat sangat angkuh di atas gerak lambat arus sungai.



Membentang ratusan meter hingga menyeberang sisi sungai lainnya.Tak pelak lagi, banyak warga Kalsel yang memanfaatkan jembatan ini sebagai objek wisata baru.Selain dapat mengagumi desain jembatan yang cantik, pengunjung juga bisa menyaksikan pepohonan hijau yang membentang di sekitar jembatan.Aktivitas di Sungai Barito pun menawarkan hal menarik bagi pengunjung, terutama bagi mereka yang bosan dengan suasana perkotaan.

Sesekali kapal pengangkut batubara, perahu tradisional serta perahu kecil berupa ‘klotok’ melintas dibawahnya.Ada juga angkutan sungai (sejenis bis air) yang melaju menuju pehuluan seperti Marabahan, Negara, Margasari bahkan Buntok di Kalteng.Bagi yang menyukai petualangan menyusuri sungai hingga pedalaman, kayaknya bis air ini layak dicoba.Saya pun punya rencana trip melalui jalur sungai ini.Entah kapan rencana itu bisa terwujud…



Kembali ke soal Jembatan Rumpiang, selain bisa dijadikan sebagai sarana objek wisata, jembatan ini tentu saja dibangun untuk memudahkan warga menuju Kota Marabahan atau sebaliknya.Karena dulu sebelum jembatan dibangun, warga harus menyeberang sungai dengan menggunakan ferry tradisional di sekitar Sungai Gampa.

Diharapkan juga melalui jembatan yang menghabiskan dana sekitar 200 milyar ini bisa memacu pertumbuhan ekonomi di sekitar jembatan terutama Kota Marabahan.Karena selama ini kota yang berjuluk Kota Bahalap tersebut masih sangat ketinggalan bila dibanding kota kabupaten lain di Kalsel.Alasan klasik memang menjadi pemicu ketertinggalan Marabahan atau Batola pada umumnya.Apalagi kalo bukan soal kekayaan alam, yang ujung-ujungnya berimbas pada Pendapatan Asli Daerah (PAD).



Jika kabupaten lain dikenyangkan oleh batubara yang melimpah, bijih besi yang mulai menggiurkan, hasil laut yang beragam, sektor jasa yang padat atau destinasi wisata yang sudah mapan, Batola masih menggantungkan PAD hanya dari retribusi-retribusi saja.Seperti retribusi yang dibebankan pada kapal pengangkut batubara yang melewati wilayah Batola, yang kita tahu kalo kapal pengangkut batubara itu berasal dari daerah lain.

Asal tahu saja, Batola hanya mampu mengumpulkan PAD sekitar 2 Milyar saja pertahun.Informasi itu saya dapatkan langsung dari keluhan yang dilontarkan oleh salah satu warga Marabahan.Bandingkan dengan kabupaten lain yang mampu meraup puluhan hingga ratusan milyar.Jangan heran jika warga Batola ada yang bilang kalo Batola masih harus ‘menyusu’ dengan pemerintah pusat.Seperti yang saya dengar langsung oleh salah satu warganya saat sama-sama menikmati semilir angin diatas jembatan.

Dan jangan bandingkan dengan kabupaten terkaya yakni Kutai Kartanegara di Kaltim yang sangat gemuk dengan PAD triliyunan rupiah setiap tahunnya.

Harapan saya pun melambung tinggi saat menikmati suasana sambut malam diatas megahnya Jembatan Rumpiang.Saya yakin harapan warga Batola lainnya, juga dibebankan pada jembatan yang berjarak sekitar 1 jam dari Banjarmasin ini.



Harapan bisa terpacunya pertumbuhan ekonomi serta dunia kepariwisataan di Batola yang memang sangat minim.Kenapa saya bilang minim objek wisata, karena saya menyaksikan langsung kehidupan warga Marabahan yang hanya puas bersantai di taman kecil di bantaran Sungai Barito atau tepatnya di depan rumah dinas Bupati Batola.Dengan kondisi yang sangat sederhana seperti tidak dilakukannya peremajaan fasilitas taman, pepohonan yang tidak beragam serta koleksi binatang yang ada disana juga sangat terbatas.Hal ini tentu juga akan mempengaruhi tingkat pembelajaran warga terutama anak-anak terhadap pentingnya menyayangi lingkungan termasuk binatang.

Dan tentu saja melalui momentum Visit South Kalimantan 2009 yang tengah bergulir, kita jadikan Jembatan Rumpiang sebagai salah satu tonggak kebangkitan dunia kepariwisataan Batola serta Kalsel pada umumnya.

Sekedar info aja, postingan saya berjudul Visit South Kalimantan 2009 : Sebuah Asa & Optimisme
akhirnya menyabet juara 3 pesta blogger Kalsel di Aruh Blogger 2009.Melalui postingan ini, saya pengen ngucapin makasih buat sahabat blogger Kalsel terutama yang tergabung dalam Kayuh Baimbai, panitia Aruh Blogger dan semua sahabat blogger di manapun.

My blog in ENGLISH, click here.

BBB

Judul diatas bukanlah merujuk pada grup vokal asal Jakarta yang bersuara pas-pasan.Dimana lagu-lagunya hanya memerlukan teknik vokal yang sangat rendah.BBB pada judul postingan ini merupakan singkatan Barambai Bali nya Borneo atau bisa juga Borneo Berasa Bali.He…



Pura Agung di Barambai

Desa Barambai sekilas mirip Bali.Kenapa saya bilang mirip Bali, tidak lain & tidak bukan karena Desa Barambai dihuni oleh sebagian besar penduduk keturunan Bali.Yang notabene juga beragama Hindu Bali.Mereka secara turun temurun menetap di desa yang berjarak sekitar 2,5 jam dari Banjarmasin tersebut.

Otomatis kehidupan mereka pun kurang lebihnya berbudaya adat Bali.Seperti penamaan keturunan.Ada yang bernama Ketut, Kadek, Arya dll.Tidak hanya itu, setiap halaman rumah pun dilengkapi dengan ukiran dari batu atau kayu sebagai alat untuk menaruh perlengkapan ibadah.



Benda yang selalu ada di tiap rumah di Barambai

Di Barambai juga memiliki pura besar yang bernama Pura Agung Widya Natha.Disini menjadi sentral peribadatan umat Hindu Bali yang ada di salah satu desa di Kabupaten Barito Kuala, Kalsel tersebut.

Penduduk disini rata-rata menggantungkan hidupnya sebagai petani.Mereka berdampingan secara damai dengan warga Suku Banjar, Jawa dll.Saat saya backpacking ke Barambai, keramahtamahan lah yang saya dapatkan.Setiap saya menanyakan sesuatu, selalu dijawab dengan tulus.

Seperti 3 anak keturunan Bali yang saya jumpai disana.Anak-anak yang masih bersekolah SD tersebut bahkan sangat lancar berbahasa Bali.Saat saya menanyakan sesuatu, mereka pasti akan menjawab dengan ramah.Logat Bali nya sangat terasa.



Anak-anak keturunan Bali

Beberapa bulan terakhir, Desa Barambai menjadi bahan perbincangan yang hangat oleh warga Kalsel.Bahkan media nasional maupun asing juga tidak mau ketinggalan dengan apa yang terjadi di Barambai.

Lumpur Barambai lah yang menjadi pemicu kehebohan warga & media.Lumpur Barambai merupakan fenomena alam yang sangat aneh.Dimana lumpur dingin keluar dari perut bumi secara terus menerus.Seperti air mendidih yang menggelembung.



Lumpur Barambai

Dulunya lumpur ini masih sangat kecil.Muncul di halaman rumah salah satu warga setempat.Lama kelamaan kubangan lumpur semakin membesar.Sehingga rumah yang ada disekitarnya dibongkar total.

Saat awal kejadian, lumpur ini banyak dikunjungi oleh warga Kalsel.Bahkan turis dari China, katanya juga pernah menyaksikan fenomena unik ini.

Kalangan akademisi seperti tim ahli ITB, juga pernah meneliti Lumpur Barambai.Usut punya usut ternyata lumpur mirip kopi susu ini mengandung gas metana.Tidak hanya itu, emas hitam alias batubara pun sering keluar bersamaan dengan lumpur.

Banyak yang bilang, kalo kandungan alam di Barambai sangat melimpah.Kekayaannya melebihi kabupaten-kabupaten lain di Kalsel yang lebih dulu dieksplorasi.

Gubernur Kalsel pun telah mengundang investor asing guna memaparkan kandungan alam yang ada di Barambai.

Dan lagi-lagi alam Kalsel terancam akan dikoyak-koyak.Itulah salah satu dampak yang harus kita tanggung jika berbicara soal ekonomi.

Namun ada secercah harapan, semoga kelak jika Lumpur Barambai benar-benar dieksplorasi dapat meningkatkan taraf hidup warga sekitarnya.

My blog in ENGLISH, click here.

Visit South Kalimantan 2009 : Sebuah Asa & Optimisme

Diawal tahun 2009 ini ada kabar yang menggembirakan bagi warga Kalimantan Selatan khususnya bagi mereka yang menyukai dunia petualangan, Pemerintah Provinsi Kalsel tengah menggelar tahun kunjungan wisata atau Visit South Kalimantan 2009.Hampir-hampir mirip dengan program nasional Visit Indonesia 2008 atau Visit Musi 2008 di Sumsel.Hal itu berarti akan semakin banyak tamu daerah yang akan berkunjung.

Banyak sekali acara yang sedang dan akan di gelar sepanjang tahun.Guna menyemarakan program tersebut.Acaranya pun tidak hanya terpusat di Banjarmasin, namun tersebar merata di seluruh kabupaten/kota di Kalsel.Umumnya acara digelar di salah satu objek wisata andalan yang dimiliki oleh masing-masing kabupaten/kota.

Secara pribadi saya sangat mengapresiasi langkah baik Pemprov Kalsel tersebut.Tidak hanya melalui postingan di blog ini, tapi program Visit South Kalimantan 2009 juga saya promosikan melalui forum khusus petualangan yang anggotanya ribuan orang di Indonesia.Sebagai warga banua, saya merasa terpanggil untuk menyukseskan hajatan mulia ini.Minimal ikut mempromosikan kalo banua tercinta tengah mengadakan undangan besar buat warga dunia untuk segera berkunjung.

Ternyata banyak juga yang tertarik dengan informasi yang saya sebarkan itu.Salah satu nya Dewi, penikmat petualangan asal Bekasi.Dewi tertarik mengunjungi agenda Visit South Kalimantan 2009 yang diadakan bulan April mendatang.

Hal itu menandakan bahwa potensi wisata yang kita miliki sangat besar.Saya berharap melalui Visit South Kalimantan 2009 bisa menjadi tonggak bersejarah kebangkitan dunia pariwisata Kalsel.Baik wisata budaya, alam, kesenian, kuliner hingga wisata relijius.

Setelah sekian lama berkeliling mengunjungi berbagai objek wisata yang ada di banua, ada beberapa objek wisata yang menurut saya secara pribadi benar-benar sangat direkomendasikan untuk dikunjungi.

Diantaranya :

Pasar Terapung (Floating Market)



Dibelahan bumi manapun, pasar yang mengapung diatas sungai cuma ada di tiga lokasi.Di Muara Kuin Banjarmasin, Lok Baintan di desa Sungai Tabuk Kab.Banjar & Thailand.Objek yang satu ini menawarkan keunikan budaya sungai yang sangat hebat.Banyak yang mengatakan jika ke Banjarmasin tidak lengkap kalau tidak ke Pasar Terapung.Sama halnya saat ke Jogjakarta, yang tidak lengkap jika tidak berkunjung ke Malioboro.

Objek yang satu ini pun sangat cocok untuk mendapatkan foto yang mengandung human interest.

Jembatan Barito



Sejak puluhan tahun silam hingga saat ini, jembatan kebanggaan Kalsel ini masih berstatus sebagai salah satu jembatan terpanjang di Indonesia.Desainnya cantik & kokoh, membentang panjang diatas Sungai Barito.Letaknya di Jalan Trans Kalimantan arah Palangka Raya.Berjarak hanya sekitar 20 menit dari pusat kota Banjarmasin.

Martapura



Siapa yang tak kenal dengan kota kecil yang telah mendunia ini.Pamornya sebagai kota intan, kembali mencuat setelah ditemukannya bongkahan intan mentah hampir sebesar bola tenis meja pada tahun 2008.Media nasional maupun asing pun ramai memberitakan penemuan hasil alam yang bernilai milyaran rupiah itu.

Selain pendulangan intan tradisional, di Martapura juga terdapat objek wajib kunjung lainnya.Diantaranya, Pusat Pertokoan Permata Cahaya Bumi Selamat, penggosokan intan tradisional, Masjid Agung Al Karomah serta Pasar Wadai Tradisional (pusat jajanan kue khas Kalsel).

Akses menuju Martapura sangatlah mudah, karena banyak angkutan umum dari Banjarmasin maupun kota lainnya menuju kota yang juga berjuluk sebagai Kota Santri itu.

Loksado



Bagi mereka yang menyukai perjalanan ala backpacker, objek alam yang ada di Loksado sangat direkomendasikan.Selain hamparan Pegunungan Meratus yang luas & hijau, di Loksado juga terdapat dua buah air terjun, komplek sumber air panas, bamboo rafting di Sungai Amandit, pedesaan Suku Dayak Meratus, Gunung Kentauan, festival Aruh Ganal dll.

Berjarak sekitar 4 jam perjalanan darat dari Banjarmasin.Lokasinya hanya sekitar 35 kilometer dari Kota Kandangan, Hulu Sungai Selatan.Akses menuju Kandangan sangatlah mudah, karena banyak angkutan umum yang melayani rute Banjarmasin - Kandangan.

Ketersediaan tempat menginap pun jangan diragukan lagi.Di Loksado telah lama tersedia penginapan sejenis cottage, wisma serta balai adat milik warga Dayak Meratus.

Kotabaru



Kota yang terkenal dengan lagu Gunung Bamega ini menawarkan paket wisata bahari yang cukup lengkap.Dikelilingi oleh lautan luas, pegunungan, pantai-pantai, pulau-pulau kecil disekitarnya, taman bawah laut, kampung nelayan hingga rumah makan seafood yang mudah ditemui di sudut-sudut kota.

Kotabaru memiliki sarana akomodasi yang cukup memadai.Akses transportasi pun sangat lancar dari Banjarmasin.Ketersediaan hotel pun cukup banyak.Angkutan umum juga mudah didapat di sekitar Kotabaru.

Jarak dari Banjarmasin sekitar 9 jam perjalanan darat.Bis umum mudah ditemui di Terminal Pal 6 Banjarmasin.Biaya sekitar 85 hingga 130 ribu rupiah untuk satu kali perjalanan.

Bagi sahabat-sahabat blogger maupun calon wisatawan yang ingin berkunjung selama Visit South Kalimantan 2009, silakan buka link-link yang saya tautkan diatas pada masing-masing objek wisata.Disana banyak info yang lebih lengkap.

Melalui program tahun kunjungan wisata ini, saya serta warga Kalsel pada umumnya memiliki sebuah asa dan optimisme agar kiranya bisa terwujud banua sebagai salah satu daerah tujuan wisata.Baik ditingkat regional Kalimantan, nasional bahkan internasional.Bukan tidak mungkin hal itu bisa terwujud jika semua kalangan bahu membahu dalam memajukan dunia kepariwisataan di Bumi Lambung Mangkurat.

My blog in ENGLISH, click here.

Salam petualangan.

Senja Kali Ini….

Entah seperti apa ungkapan teman-teman soal suasana senja.
Entah seperti apa suasana senja terakhir yang teman-teman temui.
Yang jelas bagi saya, senja dimana matahari terbenam adalah fenomena alam yang sangat menakjubkan.



Ia mampu menggugah saya untuk merenungi apa yang telah dilewati selama hidup.
Ia mampu membawa suasana hati menjadi damai.
Ia juga mampu menggerakkan pikiran untuk bersyukur pada Tuhan.
Bahkan ia mampu menunjukan bahwa ciptaan Nya memang dahsyat indahnya.
Dan lebih hebatnya lagi, ia mampu menjadikan diri saya merasa optimis menghadapi hari esok.



Senja yang saya temui di pedalaman Sungai Barito kali ini, merupakan senja yang kesekian kalinya menawan saya.
Sangat tidak beralasan jika ada yang mengatakan senja terindah itu hanya ada di pantai.
Dibalik hutan beton Jakarta sekali pun, senja akan jauh lebih indah jika kita mampu memaknai suasana senja itu.

Sampai kapan pun, saya akan selalu mencintai suasana senja.

My blog on ENGLISH, click here.