Indah nya Kepulauan Derawan : White Sandy Beach @ Sangalaki

Pulau Sangalaki adalah pulau lain yang tak kalah indah dibanding Pulau Derawan. Jarak tempuh nya hanya sekitar 40 menit dengan menyewa jasa speedboat dari Pulau Derawan. Saya tak sendiri ke Sangalaki. Ada puluhan teman seperjalanan yang juga menuju pulau berpasir putih itu. Lautan sangat tenang dan warna nya sangat biru sekali. Keindahan bahari terhampar luas di depan saya saat ini.



Sebuah dermaga kayu yang menjorok ke lautan menyambut kedatangan saya. Pulau Sangalaki akhir nya saya jumpai. Pulau kecil ini terlihat sangat tenang dan damai. Tak ada perkampungan disini. Dan tentu nya tak ada kesibukan turis di sekitar nya, tak seperti gili-gili di Lombok yang ramai oleh wisatawan.



Speedboat akhir nya menyandar di sekitar pantai. Saya langsung melompat. Tak sabar rasa nya menikmati tiap sudut Sangalaki. Pulau indah yang selama ini hanya saya kenal via internet dan majalah wisata saja. Saat ini akhir nya mimpi itu terwujud, saya benar-benar menapakkan kaki saya di pasir lembut nya.



Saya segera menuju sebuah bangunan kayu di tengah-tengah pulau. Saya harus menerobos pepohonan yang lumayan teduh. Ternyata di sana ada sebuah bangunan milik WWF, badan yang konsern terhadap pelestarian penyu hijau di sekitar Sangalaki. Di dalam bangunan berbentuk rumah panggung itu, saya bisa membaca semua informasi tentang Sangalaki serta potensi wisata nya melalui poster-poster yang di tempel di dinding kayu. Tak hanya itu, informasi mengenai kejahatan manusia terhadap penyu hijau juga saya temui disana.



Selang beberapa menit kemudian, oleh salah seorang petugas WWF, saya diajak untuk menuju sebuah kandang di tepi pantai. Ternyata di dalam nya adalah tempat penetasan telur penyu. Para petugas dengan gigih tiap malam nya mengambil telur penyu di dalam lubang-lubang di dalam pasir. Untuk kemudian diletakkan di dalam lubang buatan di dalam kandang kayu tersebut. Hal ini bertujuan untuk melindungi telur penyu dari kerusakan.



Setelah telur menetas, maka bayi penyu alias tukik pun dilepasliarkan ke lautan. Menurut informasi yang saya dengar, tukik penyu tersebut akan hidup sendirian di lautan. Tanpa ditemani oleh induk nya. Ancaman selain berasal dari manusia, tukik juga menjadi mangsa predator lain di dalam lautan. Diantara ratusan tukik yang dilahirkan oleh satu ekor penyu dewasa, hanya sekitar 1- 3 tukik penyu yang bisa bertahan hidup hingga dewasa. Bayangkan saja, betapa lambat nya perkembangan populasi penyu hijau.



Puas menyapa ratusan tukik penyu, saya kembali menikmati keindahan pantai di pesisir Pulau Sangalaki. Pasir nya luar biasa bersih nya. Laut yang terhampar di sekitar nya luar biasa jernih. Langit biru, jembatan membentang dan angin semilir membuat suasana menjadi tampak sempurna. Rasa nya waktu lambat berputar disini. Pulau kecil ini benar-benar indah.



Saya tak bosan untuk membidikkan lensa kamera ke setiap sudut Sangalaki. Kesempatan langka seperti ini sangat sayang jika tak di dokumentasikan. Saya berharap Sangalaki tetap seperti ini, indah dan sederhana tanpa ada bangunan hotel mewah dengan deretan minuman alkohol sebagai pelengkap nya. Seperti yang terjadi di pulau lain di Indonesia yang lebih turistik. Biar lah Sangalaki menjadi sebidang lahan surga yang jauh dari hingar bingar ulah manusia.



Saya mencoba berenang di laut jernih nya. Tak peduli langit terik, saya segera membasahi badan saya. Luar biasa nikmat nya. Sejenak saya bisa melupakan kehidupan ala perkotaan. Di sini saya bisa membaur dengan alam Indonesia di sudut Kalimantan yang tak jauh dari Berau. Surga bahari yang sudah terkenal hingga mancanegara.



Tak terasa sudah berjam-jam saya di pulau ini. Masih ada pulau menarik lain yang harus saya kunjungi hari ini. Saya pun menyudahi aktivitas di Sangalaki. Speedboat telah siap dengan joki nya. Enggan rasa nya meninggalkan pulau cantik ini. Namun keterbatasan waktu lah yang memaksa saya meninggalkan Sangalaki. Saya berharap suatu saat saya bisa kembali ke Sangalaki. Salah satu pulau dengan pantai yang indah yang pernah saya jumpai.

Banjarmasin, 4 Oktober 2011

Indah nya Kepulauan Derawan (Part 1)

Tiket bis berwarna kuning lusuh telah saya pegang. Di Terminal Pal 6 Banjarmasin inilah perjalanan panjang menuju Kepulauan Derawan di Kaltim dimulai. Sebuah kepulauan yang disinyalir sebagai tempat kedua terkaya di dunia dalam hal keberagaman biota laut setelah Raja Ampat. Daya tarik lain Derawan adalah Danau Kakaban, danau purba berumur jutaan tahun yang didalam nya terperangkap jutaan ekor ubur-ubur tak menyengat. Danau jenis ini hanya ada dua lokasi di seluruh dunia, yakni Derawan dan Republik Palau.



Bis yang saya tumpangi lumayan panas. Karena bis yang saya pilih adalah bis non AC. Perjalanan darat selama sekitar 15 jam menuju Balikpapan di dominasi pada malam hari. Maka saya dapat membayangkan betapa dinginnya perjalanan itu jika bis bongsor yang saya tumpangi menggunakan AC.



Secara perlahan bis berwarna coklat ini meninggalkan Banjarmasin. Langit di luar jendela bis terlihat sangat cerah. Riuh rendah suara kendaraan bermotor bercampur dengan suara obrolan penumpang lain di dalam bis adalah hal lumrah di dalam angkutan massal seperti ini. Tak ada yang bisa saya ajak bicara selama 1 jam pertama perjalanan ini, karena bangku di samping saya masih kosong. Novel Negeri 5 Menara yang selalu tertunda saya baca akhir nya menjadi pilihan terakhir untuk mengisi waktu. Saya segera terbawa ke dalam kisah novel yang isi nya sangat inspiratif. Yakni kisah perjalanan sekelompok anak pesantren yang juga bisa meraih mimpi.



Bis merapat ke tepi jalan persis di seberang Masjid Agung Al Karomah Martapura. Saya masih berada di Kalsel. Beberapa penumpang nampak tergesa-gesa menaiki bis. Salah satu nya adalah Aiman, seorang pria muda asal Martapura yang mau menuju Batu Kajang, salah satu kecamatan di sekitar perbatasan Kalsel dan Kaltim. Kami pun sesekali mengobrol.



Bis terus melaju hingga akhir nya menjemput penumpang kembali di terminal kecil di Tanjung. Pada sekitar pukul 12 malam, bis kembali merapat. Kali ini adalah sebuah rumah makan yang di kiri kanan nya adalah hutan lebat. Saya tak berminat makan, karena masih kenyang. Dan saya yakin, menu makanan di warung ini adalah masakan yang tidak begitu enak tapi harga nya selangit. Sama seperti nasib warung makan persinggahan bis lainnya di provinsi manapun di Indonesia.



Fajar menjelang ketika saya tiba di pelabuhan penyeberangan fery di Penajam, Kaltim. Ratusan kapal nelayan dan speedboat tampak berjejer di sekitar pelabuhan. Langit begitu cerah, sayang rasa nya jika saya hanya menghabiskan waktu di dalam kabin kapal. Muara Teluk Balikpapan ini terlihat sangat sibuk. Kapal kecil maupun besar lalu lalang di sekitar nya. Teluk Balikpapan yang disinyalir sebagai salah satu tempat di dunia yang kaya akan ekosistem saat ini menghadapi masalah yang cukup serius. Karena pemerintah setempat membangun Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam Paser Utara. Banyak ancaman serius yang menghadang Teluk Balikpapan dan Hutan Lindung Sungai Wain di sekitar nya, yakni ancaman terhadap bekantan dan pesut teluk yang merupakan hewan endemik Kalimantan. Inilah Indonesia, demi alasan pertumbuhan laju ekonomi maka apapun akan dilakukan.



Saya akhir nya tiba di Balikpapan. Saya memiliki beberapa jam waktu luang untuk mengelilingi sebagian sudut-sudut Balikpapan sebelum akhir nya terbang ke Tarakan. Saya beruntung karena Andy kenalan saya yang juga anggota Couchsurfing berbaik hati menjemput dan mengajak jalan-jalan di sekitar Kota Minyak Balikpapan. Sarapan perdana di Balikpapan adalah nasi pecel, sedangkan Andy memilih menu nasi kuning.



Kelar sarapan, saya langsung di giring ke sebuah pantai di sekitar Pertamina. Namanya Pantai Melawai, sebuah pantai kecil dan nyaris tak ada pasir nya. Dari sini saya bisa menyaksikan langit biru dan lalu lalang kapal besar. Andy kembali menggiring saya ke sudut lain Balikpapan, yakni Gunung Dubs. Sebuah dataran tinggi yang di atas nya saya bisa menyaksikan Balikpapan dari atas bukit. Saya bahkan diajak ke sebuah jembatan yang diyakini banyak warga Balikpapan sangat angker.
Keterbataan waktu memaksa saya harus segera menuju Bandara Internasional Sepinggan. Disana saya menemui kawan lain bernama Anno yang pernah jalan bareng ke Tana Toraja, Sulsel di tahun lalu. Aroma nasi goreng Solaria tercium samar-samar. Kami sempat mengobrol sejenak hingga kemudian saya harus memasuki ruang tunggu bandara. Di dalam ruang tunggu, saya menemui beberapa kenalan baru yang juga akan ke Pulau Derawan.



Kota Tarakan di utara Kalimantan akhir nya terlihat. Pesawat mendarat mulus di Bandara Internasional Juwata. Bandara kecil yang ternyata memiliki rute luar negeri. Bandara milik Pemko Tarakan ini ternyata masih membangun gedung baru yang lebih besar di samping gedung lama. Di sekitar ruang pengambilan bagasi, saya ternyata kembali bertemu dengan teman sesama trip ke Tana Toraja. Pertemuan dengan Marlina ini benar-benar tidak sengaja. Dia juga mau ke Pulau Derawan bersama puluhan traveler lain dari Jakarta.



Speedboat berukuran sedang telah menunggu saya dan rombongan di Pelabuhan Tengkayu Tarakan. Setelah semua penumpang lengkap, speedboat kami pun melaju meninggalkan Tarakan. Langit sangat cerah dan lautan agak sedikit bergelombang. Saya makin tidak sabar untuk segera tiba di Derawan.



Perjalanan sekitar 2,5 jam di lautan lepas akhir nya berujung di sebuah dermaga kayu di Derawan. Perairan di sekitar Derawan sangat jernih. Membuat saya ingin segera bercebur. Namun saya mengurungkannya, karena harus segera membereskan barang bawaan ke penginapan.

Hal pertama di Derawan adalah menikmati suasana matahari tenggelam di barat pulau. Namun awan tebal ternyata menutup sunset sore ini. Saya pun segera menuju dermaga kayu yang menjorok ke lautan. Pemandangan nya sangat indah, saya bisa menyaksikan laut lepas dengan leluasa. Di dermaga itu saya kembali bertemu dengan Eva, traveler asal Surabaya yang pernah saya kenal ketika Eva jalan-jalan di Pasar Terapung Lok Baintan Banjarmasin tahun lalu. Kami memang telah merencanakan trip Derawan pada waktu yang sama. Hingga akhir nya trip ini benar-benar terwujud.



Makan malam pertama di Derawan adalah dengan menyantap ikan kakap merah bakar di RM. Avril. Selain ikan nya yang enak, warung sederhana ini juga menyediakan sambal tomat yang sangat nikmat. Menikmati indah nya ribuan bintang di ujung jembatan kayu adalah hal menarik yang saya lakukan setelah makan malam. Benar-benar indah. Hingga akhir nya rasa kantuk memaksa saya untuk segera kembali ke penginapan.



Pagi menjelang. Saya tergesa-gesa menyaksikan matahari terbit di salah satu dermaga di sekitar Derawan Dive Resort. Puas menikmati sunrise, saya segera mengarahkan pandangan ke air laut di sekitar dermaga. Ternyata apa yang dikatakan banyak orang tentang mudah nya bertemu penyu hijau di Derawan terbukti juga. Saya dengan mudah menyaksikan 4 ekor penyu berukuran seperti tudung nasi yang berenang di air jernih khas Derawan. Penyu-penyu tersebut sedang mencari makan berupa dedaunan yang hanyut di air.



Malam kedua di Pulau Derawan adalah menikmati ikan baronang bakar di RM. Avril. Lagi-lagi sambal tomat nya sangat nikmat. Puas makan malam, saya langsung bergabung dengan teman-teman lainnya untuk menyaksikan penyu bertelur. Namun malam ini ternyata gagal, karena penyu yang nyaris sudah menemukan lubang telur merasa terusik oleh kedatangan kami. Penyu raksasa itupun pergi ke lautan. Saat penyu mencari lubang dan bahkan sedang menggali lubang, penyu sangat sensitif dengan suara berisik dan cahaya lampu termasuk senter. Namun jika penyu tersebut sedang mengeluarkan telur nya, maka memegang badan penyu pun bukan jadi soal. Sebagai pengobat rasa kecewa, saya pun mengganti nya dengan menyaksikan hamparan bintang di dermaga kayu. Meski agak diganggu oleh serombongan turis lokal yang berkaraoke ria dengan norak nya.



Pagi menjelang, saya mencoba mencicipi kuliner khas Derawan, yakni nasi atau ketan yang dimasak dengan batok bulu babi. Beras atau ketan mentah di masukan ke dalam batok bulu babi, lalu dimasak hingga matang.



Aktivitas memberi makan penyu dengan daun pisang adalah hal paling langka yang saya alami. Saya hanya bermodalkan daun pisang segar untuk mengundang kehadiran penyu. Daun pisang tersebut cukup dikaitkan dengan seutas tali, lalu mengikatnya di dermaga. Jika beruntung, beberapa ekor penyu sekaligus akan memakan daun pisang tersebut. Seperti yang saya alami bersama beberapa teman saat ini. Hanya berselang beberapa menit saja, penyu-penyu berhasil kami datangkan. Bahkan ada yang nekad bercebur untuk memegang badan penyu.



Siang harinya, snorkeling di Coral Garden Pulau Derawan adalah aktivitas utama di hari ketiga saya di Derawan. Saya agak meragukan, apakah keberagaman terumbu karang nya bisa sehebat nama nya. Ternyata penamaan tersebut tidaklah mengada-ada. Coral berbagai bentuk dan warna telihat sangat rapat di dalam lautan. Ikan warna-warni termasuk ikan badut di dalam film animasi Finding Nemo dengan mudah saya temui.
Spot selanjutnya adalah gusung pasir. Sebuah hamparan sangat bersih di tengah lautan. Gusung pasir ini terbentuk jika air laut sedang surut. Banyak gusung pasir di sekitar Derawan. Kami memilih gusung pasir yang ada di sebelah barat Derawan. Sangat indah.



Di malam terakhir di Derawan, saya dan kawan-kawan akhir nya menyaksikan juga penyu bertelur di sekitar lapangan voli pantai. Salah seorang petugas WWF dengan senang hati mengajak saya dan rombongan untuk menyaksikan penyu mengeluarkan telur nya. Hingga larut malam, kami tetap berada di sekitar penyu. Saya pikir kapan lagi saya bisa menemui pengalaman seperti ini. Saya tak peduli dengan rasa kantuk yang menyerang.



Hari terakhir, saya isi kembali dengan snorkeling di sekitar dermaga di Derawan. Cukup menceburkan diri dengan peralatan snorkel lengkap tanpa diantar dengan speedboat, saya bisa menyaksikan hamparan terumbu karang. Meski tidak sepadat Coral Garden dan Pulau Kakaban. Di ujung dermaga Derawan Dive Resort, saya dan kawan-kawan bahkan bisa memberi makan ribuan ekor ikan yang saya tidak tahu apa nama nya. Cukup melempar segenggam nasi putih, koloni ikan segera menyambar nasi tersebut.



Pengalaman indah menjelajah pulau-pulau di sekitar Derawan, semakin menggelitik pikiran saya terhadap salah satu dialog di serial Korea yang isi nya tentang Bali yang menurut serial tersebut adalah surga terakhir di dunia. Saya benar-benar tidak sependapat…!

Banjarmasin, 30 Juni 2011

Kaos khas Banjarmasin

Berkunjung ke Banjarmasin tak lengkap rasa nya bila tak membeli souvenir khas Banjar nya. Salah satu nya adalah kaos bernuansa Banjarmasin. Salah satu penyedia kaos bertema Banjar adalah kaos Taste of Kalimantan. Kaos ini memiliki motif yang unik dan sangat khas. Sangat cocok dijadikan sebagai kaos khas Banjarmasin.
Kaos berbahan katun asli ini bisa saya jumpai di beberapa toko oleh-oleh di sekitar Banjarmasin. Bahkan di kota Martapura saja ada beberapa toko oleh-oleh yang menjual produk asli Banjarmasin ini.



Harga perkaos untuk semua ukuran adalah Rp 65 ribu saja. Ukuran terdiri dari M, L dan XL. Kaos berbahan katun itu umum nya berwarna dasar hitam, abu-abu dan putih. Jenis warna yang banyak disukai pembeli termasuk saya.



Tak ada salah nya untuk menjadikan kaos Taste of Kalimantan ini sebagai kaos oleh-oleh khas Banjarmasin. Desain kaos nya umum nya bergambar pasar terapung, bekantan, jukung (sampan), nama-nama sungai, pendulangan intan dan lain-lain.



Desain yang tidak pasaran. Tidak seperti kaos murah meriah yang banyak dijual di Martapura, yang desain nya hanya seputaran Dayak dan Borneo saja. Sedangkan kaos merek Taste of Kalimantan ini memiliki ciri khas Banjarmasin dan Kalsel pada umum nya.


Toko-toko penyedia kaos Taste of Kalimantan diantaranya :

- Toko Nusantara Craft di Jalan Angkasa sekitar Bandara Syamsudin Noor

- Toko Aneka Karya di Pertokoan di depan Mitra Plasa Jalan Pangeran Antasari Banjarmasin

- Toko Wulan Jaya di Pertokoan di depan Mitra Plasa Jalan Pangeran Antasari Banjarmasin

- Toko Martapura di Pertokoan Permata Cahaya Bumi Selamat Blok C Kota Martapura

- Toko Batu Tipang Baru di Pertokoan Permata Cahaya Bumi Selamat Kota Martapura


Atau bisa membeli secara online melalui FB Nasrudin Ansori atau sms 085252732601.

Cara order :

1. via sms ke 085252732601 atau inbox FB atau email ke dedeelsye83@gmail.com

- ketik "kode kaos" spasi "ukuran" spasi "warna" spasi "jumlah order" spasi "nama lengkap" spasi "alamat lengkap" spasi"nomor hp"

contoh, B2 M putih 1 Ahmad Maulana Jl A Yani Komp. Citra Megah No 24 RT 2 Medan 08575246XXX.

- transfer biaya pembelian ke rek Mandiri 031-000-710-1929 atas nama Nasrudin Ansori.

- kirim pemberitahuan (konfirmasi) via sms sesaat setelah mentransfer uang ke 085252732601 dengan mengetik nama pengirim dan jumlah uang transfer (harga kaos plus ongkos kirim Tiki)

- setelah uang diterima, maka kaos akan dikirim sesuai alamat pemesan..


Banjarmasin, 19 Juni 2011

Pesona Budaya Dayak Kenyah di Pampang

Banyak hal-hal unik yang terdapat di Pulau Kalimantan, salah satu nya adalah budaya suku Dayak yang mendiami pulau terbesar di Indonesia ini. Diantara sekian banyak budaya yang melekat di kehidupan suku Dayak adalah wanita bertelinga panjang. Bukan tanpa alasan mereka memanjangkan telinga tersebut. Sejarah membuktikan pria maupun wanita suku Dayak jaman dulu beralasan, jika memiliki telinga panjang akan dapat menunjukan status bangsawan yang ia sandang. Tak hanya itu, wanita yang memiliki telinga panjang akan merasa lebih cantik.



Lebih dari itu, telinga yang berukuran panjang juga bisa menunjukan umur seseorang. Mudah saja, jika jumlah anting yang menggantung di telinganya berjumlah 60 buah, maka dapat dipastikan umur orang tersebut adalah 60 tahun. Karena memasang anting hanya dilakukan setahun sekali.

Sejak lama saya memiliki niat untuk bertemu langsung dengan suku Dayak bertelinga panjang di kampung asli nya. Dari berbagai informasi yang saya dapat, Kaltim memiliki beberapa tempat yang bisa ditemui orang bertelinga panjang. Diantaranya desa Sungai Bawang dan Pampang di Karang Mumus.



Matahari pagi bersinar hangat saat saya melaju di jalanan beraspal di sekitar pusat kota Samarinda. Sungai Mahakam tampak sibuk dengan segala aktivitas sungai nya. Kapal-kapal pengangkut batubara berseliweran di atas sungai, tak kalah sibuk dengan laju kapal kecil atau ketinting sebutan akrab warga Samarinda. Kota tepian ini tak hanya menawarkan pesona Mahakam, tenun Samarinda, Islamic Center serta Citra Niaga saja, tapi ada banyak hal yang bisa temui di ibukota Kaltim ini. Salah satu tempat menarik yang ingin saya kunjungi adalah Desa Pampang. Sebuah perkampungan tradisional suku Dayak Kenyah yang masih kuat mempertahankan tradisi di tengah-tengah modernitas yang seakan-akan tak mengenal batasan wilayah dan waktu.



Saya tak sendiri. Ditemani salah satu sahabat di Samarinda, saya menumpang sepeda motor saja menuju Pampang. Jarak yang lumayan jauh dari gemerlap perkotaan mungkin menjadi salah satu penyebab kenapa pesona kehidupan di Pampang masih tradisional. Jika Jakarta punya Situ Babakan yang menjadi objek wisata budaya, Kaltim memiliki Pampang. Sejak beberapa tahun lalu, Pampang ditetapkan sebagai desa wisata budaya. Tak heran jika desa yang berada di Kecamatan Karang Mumus ini cukup terkenal dikalangan wisatawan baik domestik maupun asing, khususnya bagi mereka yang pernah ke Kaltim.



Saya harus membayar uang sebesar Rp 15 ribu untuk memasuki kawasan desa budaya Pampang. Sebuah karcis masuk pun akhir nya saya dapatkan. Saya segera melaju ke bangunan utama berupa Lamin adat yang ada disana. Sebuah tangga kecil menyambut saya. Kiri kanannya terdapat ukiran khas Dayak Kenyah yang sangat khas.

Saya mengenal Pampang sudah sejak lama. Termasuk sejarah terbentuknya Pampang yang sangat mengharukan itu. Sekitar tahun 1960 silam, sejumlah warga suku Dayak Kenyah dan Apokayan yang saat itu bermukim di Kutai Barat dan Malinau, menolak untuk berimigrasi ke Malaysia. Mereka tetap memilih hidup di Indonesia meski sebagian dari teman dan keluarga mereka merantau ke Negeri Jiran. Tuntutan ekonomi menjadi salah satu kenapa Malaysia mereka pilih untuk hidup. Namun rupanya, sebagian lagi tetap memilih Kalimantan Timur sebagai tempat tinggal. Rasa nasionalisme terhadap NKRI menjadi pemicu nya. Melalui sebuah perjalanan darat yang panjang dan berpindah-pindah, akhir nya mereka memilih Pampang sebagai wilayah yang akan dijadikan tempat menetap.



Di Pampang, warga Dayak tersebut bertanam, memburu ikan dan binatang hutan serta tentu saja membentuk sebuah perkampungan yang semakin bertambah generasi penerus nya. Hingga jaman modern ini, Pampang masih menunjukan eksistensi nya sebagai salah satu kampung yang kuat akar budaya nya. Pampang telah lama menjadi desa budaya, yakni sejak tahun 1991 silam.

Saat saya berada di Lamin adat, saya terkagum-kagum menyaksikan ornament khas Dayak Kenyah di dinding bangunan utama. Ukiran yang sangat unik dan kuat. Warna kuning dan putih adalah warna yang mendominasi ukiran di dinding kayu tersebut.

Pukul 14.00 Wita, sejumlah tarian pun diperagakan untuk menghibur wisatawan. Pada hari minggu, Pampang rutin mengadakan pertunjukan tari-tarian khas Dayak mulai dari pukul 14.00 hingga 15.00 Wita. Berbagai jenis tarian adat yang dipertunjukkan diantaranya adalah tari Kancet Lasan, tari Kancet Punan Lettu, Hudoq, Manyam dan lain sebagainya. Gadis-gadis cantik dan pemuda-pemuda gagah, dengan semangat menari-nari sambil mengenakan pakaian khas adat Dayak.

Busana yang mereka gunakan pun sangat khas. Motif yang menempel pada busana yang mereka kenakan sangat mencirikan keunikan budaya suku Dayak di Kalimantan. Musik khas Dayak seperti sampek terus membahana di sekitar Lamin adat. Saya terkagum-kagum menyaksikan pertunjukan budaya ini. Tak terkecuali beberapa orang turis asing yang ada di sana.



Beberapa menit kemudian, saya pun berjumpa dengan sahabat-sahabat baru di Kaltim. Saya mengenal mereka melalui forum internet beralamat skyscrapercity. Selama ini kami hanya bersahabat melalui dunia maya, di Pampang lah kami bertemu secara langsung. Kami bersama-sama menikmati sisa pertunjukan tari dan musik oleh warga Pampang.

Acara adat pun kelar. Saya dan kawan baru segera berfoto bersama. Sebuah spanduk kecil bertuliskan nama forum yang kami geluti selama ini, juga tak lupa kami pajang selama berfoto. Anak-anak suku Dayak disana juga kami ajak berfoto bersama. Saya juga berhasil membidikan kamera ke salah seorang suku Dayak yang bertelinga panjang. Anting sebanyak sekitar 40 buah tergantung di kedua buah telinganya. Sungguh pengalaman yang berkesan. Dibalik arus modernitas Samarinda yang semakin gencar, Pampang masih menawarkan pesona budayanya yang bersahaja.

Banjarmasin, 8 Februari 2011

Lembah Kahung, Pesona Lain Kalsel

Lembah Kahung sudah tidak asing lagi bagi saya. Sejak lama pula saya sangat berkeinginan mengunjunginya. Namun ketidaktahuan medan dan informasi seputar Lembah Kahung yang sangat kurang, saya berkali-kali membatalkan perjalanan ke kawasan alam di Kabupaten Banjar itu. Pertengahan bulan Oktober lalu, seorang kawan mengajak saya ke Lembah Kahung. Tawaran itu pun tanpa pikir panjang segera saya iyakan. Bagi saya ini adalah peluang baik.



Seminggu setelah melakukan perjalanan ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, saya kembali meninggalkan Banjarmasin. Jarak tempuh menuju Lembah Kahung sekitar 7 jam. Perjalanan itu sudah termasuk 2 jam berkendara di jalur darat, 2 jam menyusuri Waduk Riam Kanan dan 3 jam berjalan kaki menuju titik terakhir. Cukup jauh memang, namun pesona alami yang ditawarkan Lembah Kahung rasanya sulit untuk ditolak.



Saya tidak sendiri, ada belasan teman seperjalanan menuju Lembah Kahung. Pagi minggu menyambut kami dengan matahari yang cukup cerah. Saya pun segera membelah Jalan Akhmad Yani yang menghubungkan Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Di persimpangan besar di sekitar Bundaran Simpang Empat Banjarbaru, kami terus mengarah ke Desa Aranio. Disana saya dan kawan-kawan akan mencari kapal yang bisa membawa kami ke Desa Belangian, desa terujung di sekitar Waduk Riam Kanan.



Kapal berukuran cukup besar akhirnya di dapat. Harga sewa sebesar Rp. 300 ribu saja. Langit masih sangat cerah ketika kapal kami membelah Riam Kanan yang tampak cantik. Kiri kanan nya terhampar luas Pegunungan Meratus. Puluhan keramba ikan air tawar tampak berjejer di atas permukaan air Riam Kanan yang berwarna agak kehijauan.



Desa Belangian menyambut kami. Total perjalanan di atas kapal sekitar 2 jam. Sebuah dermaga kecil terlihat menjorok ke tengah danau. Kami segera melompat. Tak menyia-nyiakan waktu, saya bersama rombongan segera trekking menuju Lembah Kahung. Desa Belangian berukuran sangat kecil. Tak ada kendaraan bermotor disini. Suasananya sangat tenang.



Beberapa puluh menit kemudian, jalur trek yang kami lalui adalah berupa hamparan rumput, sisa perkebunan hingga lahan yang bekas terbakar. Hingga akhirnya kami menemui sungai pertama. Di sekitarnya terdapat shelter pertama. Saya agak terkejut, karena tak ada jembatan di sungai ini. Untung saja sungai nya tidak deras, sehingga kami bisa menyeberanginya. Kedalaman air sungai sekitar 30 centimeter saja. Saya pun berpas-pasan dengan salah seorang penduduk setempat yang tengah asyik menggiring kerbaunya. Kerbau tersebut dijadikan sebagai alat pengangkut kayu. Di dasar sungai, saya kerap kali menginjak batu alam di bawahnya. Jika tidak hati-hati, bukan tidak mungkin saya dan kawan-kawan terjungkal ke air.



Daratan kembali kami tapaki. Kali ini kami menemui lahan kosong yang disana kami bisa menyaksikan hamparan perbukitan hijau yang sangat indah. Bahkan sebuah hamparan rumput hijau kami temui di sebelah kanan jalan. Rumput hijau tersebut tumbuh subur di atas sebuah bukit. Mengingatkan saya pada foto yang sering muncul di Microsoft pada komputer. Saya pun dengan semangat bertahan di sekitarnya. Sayang rasanya jika tempat sebagus itu jika tidak dinikmati. Lensa kamera saya pun berkali-kali saya bidikan.



Kami kembali berjalan di jalur setapak. Kiri kanan jalan, saya banyak menemui pohon-pohon cabe bertebaran. Tampaknya penduduk setempat mengalami surplus cabe. Karena buahnya sangat banyak.
Dua jam perjalanan membawa kami pada shelter kedua. Di sebelah kanan jalur, saya menemukan dua buah bangunan mirip gazebo. Di sekitarnya terdapat hamparan sungai berbatu-batu. Kami terus melaju. Karena tujuan kami adalah air terjun di Lembah Kahung. Menurut informasi di internet, air terjun tersebut memiliki tingkatan sekitar 8 tingkat. Saya membayangkan, pemandangannya pasti sangat indah.



Namun setibanya di Hutan Kahung, saya dihadang segerombolan lintah liar yang cukup menjijikan. Lintah berwarna coklat itu sangat agresif. Setiap ada suhu panas yang berasal dari tubuh manusia, lintah-lintah tersebut akan mencari sumber panas itu. Tak tanggung-tanggung, lintah tak hanya menempel di tubuh saja. Tujuan utamanya adalah menghisap darah manusia.

Gigitannya menancap kuat di kulit saya. Melihatnya, saya sangat jijik. Belasan teman lainnya juga panik diserang binatang yang hanya bisa hidup di lahan basah itu. Ditengah kepanikan, saya dan kawan-kawan mencoba untuk membunuh lintah yang menempel di kaki dengan cara menaburi garam. Jika tidak mempan, kami terpaksa membunuhnya dengan cara memukulnya. Darah segar pun akan keluar dari tubuhnya.



Saya segera berlari keluar Hutan Kahung. Jalan licin tak lagi kami hiraukan. Karena semakin banyak lintah bermunculan. Niat mengunjungi air terjun kami urungkan. Kami tidak mau mengambil resiko terlalu banyak diserang lintah. Pesona hutan khas Kalimantan hanya sesaat kami nikmati. Jejeran pohon berukuran raksasa tak sempat saya foto. Ancaman lintah memaksa saya untuk tidak beraktivitas lebih banyak di hutan basah itu.

Hingga akhirnya saya dan rombongan beristirahat di shelter kedua di tepi sungai berair jernih. Ternyata beberapa lintah masih menempel di kaki saya. Tubuhnya tambun karena terlalu banyak menghisap darah saya. Trip kali ini benar-benar berbeda. Saya baru kali ini menemui alam yang banyak lintah di dalamnya. Bosan rasanya kalo hanya mengurus soal lintah, saya pun segera mengganjal perut dengan roti dan minuman beraroma jeruk. Salah satu teman seperjalanan, menjadikan roti tawar dan pisang sebagai menu andalan di Lembah Kahung.



Sungai alami di samping shelter menggoda saya untuk segera bercebur. Air nya sangat dingin dan jernih. Mirip Sungai Amandit di Loksado. Arus deras sungai yang bertemu ratusan batu di sekitarnya menciptakan pecahan air sungai yang sangat indah. Jeram-jeramnya terlihat cukup berbahaya. Saya merasa puas dengan apa yang saya dapat di Lembah Kahung. Meski batal ke air terjun nya. Saya masih berniat, untuk kembali kesini. Bahkan telah menyusun rencana untuk bermalam disini.

Info Akomodasi :

Dari Banjarmasin tujuan Martapura dilayani angkutan L300. Dari Martapura ke Waduk Riam Kanan, dilayani juga angkutan sejenis pick up. Dari dermaga Riam Kanan menuju Desa Belangian menggunakan kapal sewaan seharga Rp 300 ribu. Dari Desa Belangian ke Lembah Kahung hanya bisa dengan berjalan kaki/trekking sekitar 3 jam.

Banjarmasin, 27 November 2010

Bontang, Tak Sekedar Pabrik Raksasa

Mendengar nama Bontang, sebagian besar dari kita akan langsung mengingat dua buah pabrik besar yang beroperasi disana. Yakni Pupuk Kaltim dan Badak LNG, dua buah pabrik raksasa yang sedikit banyak telah menjadikan Bontang seperti saat ini. Pengaruh paling nyata adalah banyaknya pendatang dari luar Kalimantan yang menjadikan Bontang sebagai tempat mencari nafkah. Tidak hanya bekerja di dua pabrik tersebut, tapi banyak sektor lain yang menjanjikan yang bisa diraih di Kota Taman itu. Padahal masih ada alasan lain untuk mengunjungi Bontang, selain sebagai tempat untuk mencari nafkah.



Saya mantabkan niat mengunjungi kota yang berjarak sekitar 3 jam dari Samarinda itu dengan menaiki bis umum. Bis berangkat dari Terminal Lempake dengan biaya sekitar Rp 20 ribu saja. Bis merayap membelah sebagian sudut-sudut Samarinda yang tampak sangat sibuk. Kiri kanan jalan terlihat begitu banyak pembangunan gedung baru, baik hotel, pertokoan hingga ruko-ruko berbagai bentuk. Kontur geografis Samarinda yang berbukit-bukit mengingatkan saya pada kota Semarang. Tapi bedanya adalah Samarinda dibelah oleh Sungai Mahakam yang sangat tersohor itu. Sehingga tak heran jika di sekitar pusat kota berseliweran kapal-kapal besar merayap di atas sungai yang terkenal akan ikan pesut nya itu.



Memasuki tepian kota, jalan masih-masih meliuk-liuk terkadang konturnya turun naik. Jalan beraspal terlihat mulus, lalu lintas tak lagi ramai. Kiri kanan jalan saya menyaksikan hamparan perbukitan gundul yang merupakan sisa-sisa penebangan hutan. Saya jadi teringat ucapan seorang kawan di Banjarmasin, yang menyatakan bahwa era penebangan hutan mungkin telah berlalu, saatnya bumi dikoyak untuk mendapatkan batubara. Miris memang bila menyadari hal itu. Pulau Kalimantan memang sangat kaya soal sumber daya alam. Tak hanya hutan dan batubara, pendulangan intan bernilai tinggi juga ada di pulau nya suku Dayak ini. Biji besi dan gas metana katanya mulai akan digarap di Kalsel. Tak salah memang jika semua itu di eksplorasi, namun alangkah baiknya tetap peduli pada kelestarian alam.



Tak terasa bis non AC yang saya tumpangi telah memasuki kota Bontang. Sebuah gerbang besar menyambut kedatangan saya. Kesan pertama saya sesaat setelah memasuki Bontang adalah kota kecil yang sangat bersih dan asri. Tak ada kata semrawut untuk menggambarkan kota tepian laut ini. Rumah-rumah penduduk, perkantoran dan pertokoan berpadu apik dengan ramai nya pepohonan hijau. Sementara di sudut-sudut lain, saya banyak menemui taman kecil. Mungkin inilah alasan kenapa Bontang berjuluk sebagai Kota Taman.



Ada beberapa objek wisata yang akan saya kunjungi selama berada di Bontang. Diantaranya adalah Pulau Beras Basah, Bontang Kuala, wisata kuliner dan lain sebagainya. Kunjungan pertama saya adalah Bontang Kuala. Sebuah perkampungan diatas air yang menjadi salah stau ikon pariwisata Bontang. Layaknya sebuah kota, perkampungan yang berada di tepi laut lepas ini juga memiliki banyak fasilitas. Tak heran jika saya menemui masjid, toko, café lengkap dengan karaoke bahkan panggung hiburan pun ada disana. Rumah-rumah yang terbuat dari kayu tampak rapi berjejer di air laut. Jalan penghubung antar rumah adalah berupa jembatan yang juga terbuat dari kayu. Saya kadang berpapasan dengan warga yang tengah asik bersepeda motor disini.
Saya langkahkan kaki menuju tepi perkampungan yang langsung bersebelahan dengan laut lepas. Disana ada semacam alun-alun berukuran seperti lapangan futsal. Kiri kanannya banyak sekali pedagang minuman dan makanan bergedung sederhana. Umumnya minuman yang dijual adalah aneka jus buah dan makanan semacam nasi goreng.



Jauh-jauh berkunjung ke Bontang rasanya tidak masuk akal jika saya hanya menyantap jus dan nasi goreng. Maka pilihan saya jatuh pada Sokko, makanan yang kata penduduk Bontang Kuala berasal dari sini. Sokko berpenampilan sederhana namun tampak menggoda selera saya. Bahan utamanya adalah ketan yang dimasak tanpa menggunakan santan.



Ketan tesebut dicetak di dalam sebuah mangkok kira-kira berdiameter 10 centimeter. Diatas cetakan ketan yang sudah berbentuk ditaburi parutan kelapa muda. Tak hanya itu, Sokko juga dilengkapi dengan lauk berupa ikan laut yang telah digoreng lalu disuwir-suwir kecil. Potongan ikan itu lalu ditumis dengan potongan bawang merah, yang dicampur dengan cabe kering, garam, gula pasir dan bawang merah yang telah dihaluskan.



Saat saya menyantapnya, ternyata jauh lebih nikmat dari apa yang bisa saya bayangkan. Rasa pedas tampak mendominasi indra perasa saya. Menambah nikmat kuliner khas Bontang Kuala itu. Saya hanya mengeluarkan uang sebesar Rp 2 ribu saja untuk membayar kuliner unik dan khas itu. Harga yang tampak sangat masuk akal dan bersahabat untuk satu porsi Sokko. Saat ini tak banyak pedagang di Bontang Kuala yang menjajakan Sokko. Maka sangat dibutuhkan kejelian kita untuk menemukan pedagang Sokko di sekitar Bontang Kuala.



Tak hanya ramai dikunjungi wisatawan, Bontang Kuala juga menjadi tempat favorit warga Bontang untuk bersantai. Waktu paling ramai adalah saat menjelang senja dan pada malam hari, terutama sabtu malam. Biasanya ada pertunjukan musik dan hiburan lainnya. Cukup menghibur memang.



Malam menyambut saat saya berniat berkeliling kota. Suasana kota Bontang terasa lebih semarak pada malam hari. Banyak pertokoan dengan lampu-lampunya masih beraktivitas. Sejumlah pemilik rumah makan pun masih semangat menjajakan dagangannya. Termasuk RM Sari Laut Surabaya yang saat ini saya singgahi. Menu andalan di rumah makan sederhana ini adalah kepiting goreng mentega kriuk. Sulit digambarkan betapa nikmat nya kepiting goreng di tempat ini. Sejumlah kepiting berpadu dengan lezatnya aneka bumbu yang melekat di setiap cangkang dan daging nya. Sementara, cocolan sambal pedas dan lalapan sayur mentah semakin menambah nikmat menu yang disajikan. Satu porsi terdiri dari 2 ekor kepiting ukuran besar dengan harga Rp 35 ribu saja. Sehingga saya benar-benar merasa kenyang setelah melahap semua kepiting yang ada.



Rasanya jauh-jauh ke Bontang akan terasa rugi jika tak menyaksikan suasana pabrik Pupuk Kaltim pada malam hari. Saya cukup berkunjung ke area samping Hotel Bintang Sintuk untuk menyaksikan pabrik milik BUMN tersebut. Meski saya belum pernah ke Hongkong, namun mata saya mampu sedikit menyetarakan ribuan lampu di sekitar pabrik dengan lampu-lampu perkotaan di Hongkong sana. Sungguh pemandangan yang spektakuler, sebuah pabrik raksasa yang mirip kota besar di malam hari.

Tak terasa perjalanan saya di Bontang harus segera saya sudahi. Di pagi minggu yang cerah, saya disuguhi semangkok mie godok Jawa bikinan salah satu teman yang rumah nya saya jadikan tempat menginap selama di Bontang. Dengan berat hati saya meninggalkan kota Bontang dengan segala pesona nya.

Akomodasi :

Maskapai penerbangan cukup banyak melayani rute Jakarta menuju Balikpapan. Dengan harga mulai dari Rp 500 ribuan. Dari Balikpapan anda bisa menuju Bontang dengan menumpang bis seharga Rp 85 ribu. Lama perjalanan sekitar 5 jam. Atau jika anda dari Samarinda, maka biaya bis hanya Rp 20 ribu saja. Bontang termasuk kota yang tidak banyak memiliki hotel berbintang. Mungkin Hotel Bintang Sintuk bisa anda jadikan sebagai tempat menginap yang berkelas selama di Bontang. Lokasinya yang berada di sekitar Komplek perumahan Pupuk Kaltim, menjadikannya cukup tenang dan asri. Dari area hotel anda bisa menyaksikan pabrik PKT yang semarak di malam hari. Bontang Kuala adalah lokasi tepat untuk mencicipi Sokko. Makanan yang terbuat dari ketan, parutan kelapa dengan tambahan ikan berbumbu pedas. Satu porsi hanya sebesar Rp 2 ribu saja. Selain itu, kepiting goreng mentega kriuk di RM Sari Laut Surabaya sangat direkomendasikan jika anda berkunjung ke Bontang. Alamatnya di Jalan Bayangkara samping pom bensin telpon (0548) 24909. Lagi-lagi Bontang Kuala menjadi tempat yang pas untuk berbelanja oleh-oleh selain untuk mencicipi Sokko. Disini terdapat beberapa rumah penduduk yang menjajakan aneka souvenir khas Bontang. Seperti rumah suku Dayak yang berbentuk panggung dan aneka cinderamata yang terbuat dari karang laut. Selain itu, di Bontang Kuala juga banyak dijual terasi khas Bontang Kuala. Harganya mulai dari Rp 5 hingga 10 ribu saja. Jangan khawatir jika aroma terasi nya kemana-mana, karena terasi khas Bontang Kuala sudah dibungkus sedemikian rupa. Sehingga “aman” jika dijadikan oleh-oleh.