Sekapung : Desa Kecil di Pesisir Kalimantan

Saya benar-benar tidak menyangka bisa menjelajah di sebuah desa kecil yang lokasinya sangat jauh dari kota Banjarmasin.Desa itu bernama Sekapung, yang dihuni oleh ratusan kepala keluarga saja.Hebatnya, desa yang masuk di Kecamatan Pulau Sebuku Kab.Kotabaru ini memiliki pemandangan yang sangat indah.Karena lokasi nya langsung menghadap lautan lepas.



Maka tak heran jika Sekapung memiliki sebuah pantai yang langsung menempel dengan perkampungan penduduk.Menuju pantai hanya melangkahkan kaki beberapa saat, kita sudah disuguhi sebuah pemandangan laut lepas dan hamparan pasir pantai berkarang.



Di sekitar pantai ada 1 buah dermaga panjang yang terbuat dari kayu ulin.Dermaga bantuan sebuah perusahaan tambang batubara.Tak heran di sekitar Sekapung sering berseliweran speed boat mengangkut penumpang dari Kotabaru, ibukota kabupaten.Tarif angkutan speed boat antara Kotabaru menuju Sekapung hanya sebesar Rp. 60.000, dengan lama perjalanan sekitar 1,5 jam.Selama perjalanan, banyak pemandangan indah yang bisa dinikmati.Seperti hutan bakau, pantai, pulau kecil serta pegunungan Bamega.



Selama berada di Sekapung, saya bersama dua orang teman seperjalanan ( Gunadi & Fadil ), seringkali berkunjung dan membaur bersama warga setempat.Banyak obrolan menarik yang kami bahas selama bergaul dengan warga Sekapung.Seperti keluhan mereka yang khawatir alam Pulau Sebuku akan hancur jika pertambangan batubara tidak dihentikan.



Selain mengajak warga mengobrol, kami juga mengamati kegiatan yang ada di sana.Salah satu nya adalah salah seorang bapak paruh baya yang berprofesi sebagai pembuat tabung sumur galian.Satu buah tabung sumur dihargai Rp. 80.000.Saya pun ikut belajar singkat pembuatan tabung sumur tersebut.Ternyata susah juga.



Puas membaur dan mencoba salah satu aktivitas warga, kami bertiga lalu kembali menyusuri pantai yang ada di sekitar nya.Rasanya damai sekali jika kami tinggal di Sekapung.Jauh dari sibuk nya kehidupan perkotaan.Dan tentunya selalu disuguhi oleh alam yang masih bersahaja.



Waktu jualah yang mengharuskan kami untuk kembali ke Banjarmasin, Samarinda & Jakarta.Kami rasanya masih ingin kembali ke Sekapung.Bertemu kembali dengan penduduk dan alam nya yang bersahaja.

Banjarmasin, 12 November 2009

Mencicipi Keindahan Pulau Haur

Bersama dua orang teman, saya kembali melakukan perjalanan ke sebuah pulau kecil yang indah.Letaknya tidak jauh dari Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru Kalsel.Nama pulau itu adalah Pulau Haur.



Dalam bahasa Banjar (Kalsel) Haur berarti sibuk/repot.Tapi yang saya temui di Pulau Haur tidak ada kesibukan disana.Pulau Haur hanyalah sebuah pulau kecil ditengah lautan lepas yang tidak berpenghuni.Praktis, disana tidak ditemukan satu buah pun bangunan rumah.Benar-benar belum terjamah oleh manusia.



Saya yang memang sangat menyukai petualangan di pantai ataupun pulau, benar-benar menikmati suasana yang disajikan oleh Pulau Haur.Mulai dari pantai berpasir putih, debur ombak yang gak pernah berhenti, air laut yang cukup bening serta pemandangan bukit karang di sekitar nya.



Untuk menuju Pulau Haur, kami menyewa sebuah perahu nelayan milik warga di desa Sekapung, Pulau Sebuku.Dari desa Sekapung menuju Pulau Haur hanya diperlukan sekitar 30 menit perjalanan laut.Biaya yang kami keluarkan untuk menyewa kapal nelayan hanya sebesar Rp 50 ribu saja.



Disana kami tidak hanya menikmati segar nya air laut saja, tapi kami juga menikmati indah nya pemandangan matahari terbenam alias sunset.Lokasi sunset nya tepat berada di depan Pulau Haur.




Di pulau yang juga memiliki gua ini, tidak ada penginapan.Bagi yang mau berkunjung cukup pulang pergi dalam sehari saja.Akses terdekat untuk menuju pulau ini adalah desa Sekapung.



Desa Sekapung dapat anda temui melalu dua cara, yakni dengan menaiki speed boat langsung menuju Sekapung dari pelabuhan Kotabaru atau menumpang speed boat jurusan desa Sungai Bali, ibukota kecamatan Pulau Sebuku.



Satu-satu nya cara untuk mengatasi soal tempat menginap adalah dengan cara menumpang di rumah penduduk.Seperti yang kami lakukan ketika berkunjung ke Pulau Sebuku ataupun Pulau Haur nya.Kami waktu itu menginap di rumah Kepala Desa Sekapung, Bapak Hafid.Keakraban yang kami bina seakan-akan telah saling kenal sejak lama.



Rumah Bapak Hafid persis menghadap Pantai Desa Sekapung.Sepanjang hari kami disuguhkan pemandangan yang sangat indah.Gemuruh angin laut pun seakan-akan membius pendengaran kami yang sangat bosan dengan bising nya mesin kendaraan bermotor di perkotaan.

Sekali lagi wajah Indonesia, khususnya Kalimantan menunjukkan keindahannya yang luar biasa.

Bujet yang kami keluarkan :

- Mobil tujuan Kotabaru : gratis karena ikut mobil kantor.
- Speed boat Kotabaru - Pulau Sebuku : Rp. 50 ribu
- Pulau Sebuku ke desa Sekapung : gratis karena dijemput mobil PT. BCS.
- Penginapan : Gratis, karena menginap di rumah Kades. Sekapung Bpk Hafid
- Sewa kapal ke Pulau Haur : Rp. 50 ribu


Thanks to :

- Bapak Camat Pulau Sebuku : Bpk. Maulidiansyah
- Mbak Melita (PT. BCS)
- Kades Sekapung Bpk Hafid
- Teman jalan Gunadi & Fadil.


Banjarmasin, 21 Oktober 2009

Berkunjung ke Pulau Sebuku

Kalimantan kembali menunjukan keindahannya.Kali ini saya mengunjungi sebuah pulau yang ada di pesisir Kalimantan, tepatnya di Pulau Sebuku, Kab Kotabaru,Kalsel.Sekitar 12 jam perjalanan darat dari Banjarmasin.

Dengan melewati jalur darat antara Banjarmasin - Batulicin.Kemudian dilanjutkan dengan menumpang kapal fery menuju pelabuhan Tanjung Serdang, Kotabaru.Setelah itu, mobil yang saya tumpangi kembali menyusuri jalur darat menuju Kotabaru.Disana saya, harus kembali mencari tumpangan berupa speed boat menuju Sungai Bali, ibukota kecamatan Pulau Sebuku.



Sepanjang perjalanan menuju Pulau Sebuku, saya seringkali menemui bagang-bagang milik nelayan setempat.Bagang-bagang itu dibangun diatas lautan, yang berfungsi untuk menangkap ikan.Laut lepas berwarna kebiru-biruan serta hamparan pegunungan di sekitar Kotabaru adalah pemandangan lain yang saya temui selama berada diatas speed boat yang melaju kencang.



Oh iya, dalam perjalanan menuju Pulau Sebuku ini, saya tidak sendiri.Lagi-lagi saya mengajak rekan dari luar Banjarmasin.Rekan bernama Gunadi yang berasal dari Samarinda adalah seorang sahabat yang juga tergabung di komunitas backpacker Indobackpacker dan Fadil yang berasal dari Jakarta.

Sesampainya di pelabuhan Sungai Bali, kami langsung menemui salah seorang karyawan perusahaan pertambangan batubara di Pulau Sebuku.Kami diberi fasilitas penjemputan dengan menggunakan mobil perusahaan.

Tujuan kami selanjutnya adalah desa Sekapung yang berada di sisi selatan Pulau Sebuku.Perjalanan kembali kami tempuh dengan membelah Pulau Sebuku.Tercatat ada sekitar 7 desa yang kami lewati selama perjalanan.

Akhirnya kami tiba di sebuah lokasi dimana mata saya sangat dimanjakan oleh hamparan laut biru dengan latar perbukitan hijau di sisi lainnya.Sebuah pemandangan yang sangat indah.



Tak lama kemudian, kami kembali melanjutkan perjalanan untuk menemui Bapak Hafid.Beliau adalah kepala desa Sekapung, yang rumahnya akan kami tumpangi selama berada di Pulau Sebuku.

Ternyata aslinya, Bapak Hafid sangat ramah.Kami langsung dijamu beberapa penganan dan minuman segar.Padahal ini merupakan pertemuan perdana kami.Tapi rasanya seperti telah saling kenal sejak lama.Setelah asyik berbincang-bincang, saya pun mengajak teman seperjalanan untuk segera menjelajahi sudut-sudut menarik di sekitar desa Sekapung.



Pantai yang terdapat di desa Sekapung memiliki karakter yang unik.Seperti adanya bebatuan dan pasir yang berwarna agak kekuningan.Dengan latar langit berwarna biru.



Saat itu, air laut sangat surut.Sehingga kami menemui sebuah jembatan yang dibawahnya tidak ada air sama sekali.Bahkan beberapa speed boat dan kapal nelayan milik warga juga teronggok kaku diatas pasir.



Kami juga sempat berfoto dengan Kades Sekapung, Bapak Hafid.Melalui blog ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bpk Hafid dan sekeluarga atas tumpangannya.



Hamparan pasir putih kembali menggoda saya dan teman-teman untuk segera menjelajah pantai.Betapa kaya nya Indonesia, segala jenis keindahan ada di negeri khatulistiwa ini.



Banyak pengalaman berharga yang saya temui selama berlibur di Pulau Sebuku, khususnya desa Sekapung.Mulai dari keindahan alamnya, keramahan warga hingga kesederhaan yang mereka miliki.Keakraban yang kami bangun antara saya, Gunadi & Fadil juga menjadi kenangan tersendiri bagi saya secara pribadi.Rasanya, belum puas melakukan petualangan bersama mereka.



Dengan berat hati, kami pun meninggalkan negeri kecil nan indah bernama Pulau Sebuku.

Banjarmasin, 29 September 2009

Haratai, Pesona Kampung Dayak & Air Terjun

Keindahan yang tersembunyi.Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan pesona desa Haratai di Kecamatan Loksado, Kab. Hulu Sungai Selatan ini.Di desa yang didiami oleh suku Dayak Meratus ini terdapat berbagai objek menarik yang cocok untuk dijelajahi.

Bersama 3 orang teman, saya lajukan kendaraan menuju desa yang berada disela-sela megahnya Pegunungan Meratus yang membentang di sebagian besar wilayah Kalsel.Kota terakhir yang kami jumpai adalah Kandangan, sebuah kota kecil yang merupakan ibukota Kab. Hulu Sungai Selatan.

Dari Kandangan, perjalanan masih menyisakan sekitar 38 kilometer atau sekitar 1 jam.Melewati berbagai desa seperti desa Muara Hatip, yang lokasinya berada di sekitar Gunung Kentawan yang tampak menjulang.Umumnya desa-desa yang tampak bersahaja itu didominasi oleh suku Banjar dan suku Dayak Meratus.Mereka hidup berdampingan secara damai.Berbagai sarana ibadah pun tampak kokoh, menandakan betapa rukun nya hidup di pedalaman Kalimantan ini.

Sebuah pintu gerbang menyambut kedatangan kami, menandakan perjalanan telah memasuki kawasan Loksado.Sebuah kecamatan yang hampir setiap pekan di kunjungi oleh turis asing terutama dari negara-negara Eropa.Loksado terkenal cocok untuk menjajal hobi petualangan seperti bamboo rafting, trekking, camping, hiking dan lain-lain.

Salah satu nya desa Haratai yang saya kunjungi ini.Dari pusat Loksado, perjalanan dengan kendaraan roda dua dapat ditempuh sekitar 30 menit.Selama perjalanan kami melewati pemandangan alam yang sangat cantik & natural.Hutan, sungai, bebatuan besar, jembatan gantung, bukit-bukit, kebun kayu manis & bambu serta beberapa rumah Dayak Meratus.



Sesampai nya di desa Haratai, kami langsung menemui puluhan rumah berbentuk panggung milik suku Dayak Meratus.Beberapa warga pun kami jumpai disana.Ada yang sekedar duduk-duduk santai di pelataran rumah bahkan ada yang terlihat asyik mengurusi tanaman di sekitar rumah mereka.Bahkan kami sempat menemui beberapa tanaman anggrek khas Loksado.

Disudut lain, ada sebuah bangunan besar yang disebut warga sekitar Balai Haratai.Saya pun tergerak untuk segera memasuki ruangan yang tak berpenghuni itu.Di dalam balai terdapat puluhan bilik kamar berukuran kira-kira 3 x 4 meter.Di berbagai perkampungan Dayak lain seperti di Kalimantan Barat, warga Dayak mendirikan rumah panjang seperti ini yang di dalamnya dihuni oleh puluhan kepala keluarga.



Tapi Balai Haratai yang saya temui ini katanya sudah tidak berpenghuni lagi.Hanya pada saat-saat tertentu saja diramaikan oleh warga Dayak Meratus.Seperti pelaksanaan acara adat Aruh Ganal.Sebuah perayaan yang digelar untuk mensyukuri hasil panen.



Warga Dayak umumnya sangat menghormati roh-roh nenek moyang.Pengetahuan tentang bertani, ilmu gaib, dan sebagainya selalu dikaitkan dengan kepercayaan terhadap roh-roh.

Selain itu mereka juga sangat menghargai limpahan alam yang mudah ditemui di bumi Kalimantan.Seperti yang saya temui di desa Haratai ini.Untuk mendapatkan air, mereka cukup memanfaatkan air bersih yang datang dari pegunungan.Sistem pengairan yang digunakan sangat sederhana, yakni dengan menggunakan bambu yang dibelah.Bambu-bambu tersebut saling menyambung sehingga dapat mengalirkan air dari pegunungan menuju rumah penduduk.



Uniknya, air jernih yang alami tersebut mengalir selama 24 jam non stop.Benar-benar perpaduan yang sangat indah antara manusia dan alam.Saya sangat kagum terhadap kehidupan bersahaja milik warga Dayak Meratus ini.Hidup di rumah-rumah yang sederhana pula.



Berkunjung ke desa Haratai tidak lengkap jika tak mengunjungi air terjun yang juga dinamai Haratai.Lokasinya sekitar 1,5 kilometer dari Balai Haratai.Untuk menuju ke air terjun ini, kami harus melakukan perjalanan tanpa kendaraan.Waktu yang kami tempuh sekitar 20 menit.Melewati berbagai jenis pohon serta sebuah jembatan gantung yang dibawah nya terdapat Sungai Amandit.



Sesampainya di air terjun Haratai, saya bersama rombongan segera mendekati sebuah telaga yang air nya bergelombang mirip di lautan.Karena tekanan yang berasal dari jatuhnya air dari atas bukit.Air di telaga tersebut berwarna agak kehijauan dan sangat dingin.



Loksado dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dan angkutan umum.Setibanya di Loksado anda bisa melanjutkan perjalanan menuju Haratai dengan 3 cara saja.Menggunakan jasa tukang ojek, menggunakan kendaraan roda dua milik pribadi atau jalan kaki.Karena akses menuju desa Haratai tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.Tarif sewa ojek sebesar Rp 50.000 PP.

Banjarmasin, 5 September 2009

Pulau Datu yang Eksotis

Niat mengunjungi Pulau Datu akhirnya kesampaian.Pulau cantik yang berada di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut itu memang sangat layak untuk dikunjungi.Posisi nya yang berada di tengah-tengah laut, menawarkan pemandangan alam yang sangat cantik.


Dari Banjarmasin saya langkahkan kaki bersama rombongan beberapa orang teman.Dengan menggunakan mobil buatan Jepang, kami lajukan kendaraan menorobos hujan lebat di sekitar kota Banjarmasin.Memasuki daerah Gambut, hujan lebat yang sempat membuat kami gelisah telah reda.


Di perjalanan saat memasuki kota Pelaihari, yang merupakan ibukota Kabupaten Tanah Laut suara adzan maghrib menggema.Mobil pun kami arahkan menuju Masjid Agung Syuhada.Sebuah masjid besar yang ada di kota kecil ini.Bentuk masjid sangat cantik, karena memadukan seni kaligrafi Arab dan ukiran khas Kalimantan.


Selesai menunaikan ibadah sholat maghrib, kami kemudian membeli nasi goreng di sekitar Taman Kijang Kencana.Setelah itu, kami lanjutkan perjalanan menuju Pantai Batakan.Satu jam kemudian kami akhirnya tiba di Pantai Batakan.


Beruntung kami masih mendapatkan sebuah cottage dengan tarif Rp. 150 ribu permalam.Selesai membereskan barang bawaan, kami pun segera menyalakan api unggun di tepi pantai.Jagung muda yang kami beli di Bati-Bati, tidak kami sia-siakan.Acara bakar-bakar jagung pun kami isi dengan canda tawa.


Besoknya kami lanjutkan liburan long weekend dengan berbagai kegiatan.Salah satunya adalah menyebrang ke Pulau Datu.Sebuah pulau yang berada di tengah laut, di sekitar Pantai Tanjung Dewa.Tak jauh dari Pantai Batakan.Pantai perawan ini menawarkan pemandangan yang berbeda dari Pantai Batakan.


Segera kami memesan sebuah perahu (klotok) untuk menyambangi Pulau Datu.Dengan biaya sewa sebesar Rp. 70 ribu.Perjalanan menyeberangi Pulau Datu sekitar 10 menit saja.Melewati hamparan laut yang berwarna kehijau-hijauan.Riak-riak ombak menggoncang klotok yang kami tumpangi.



Tak berapa lama kemudian, Pulau Datu menyambut kedatangan kami.Sebuah dermaga yang terbuat dari kayu sukses kami naiki.Pintu gerbang bertuliskan Makam Datu Pamulutan kembali menyambut kedatangan kami.Karena disana terdapat makam ulama Kalsel jaman dulu.



Tak tahan dengan pemandangan yang ada, saya pun segera membidikkan lensa kamera ke beberapa objek.Landscape alam di sekitarnya sangat cantik.Hamparan perbukitan dan Pantai Tanjung Dewa di seberangnya, bebatuan besar, pepohonan nan asri, laut yang kehijau-hijauan, langit cerah serta beberapa buah kapal perahu Madura adalah paket yang sangat menggoda.



Deburan ombak di sela-sela bebatuan, membuat suasana makin mengasyikan.Saya makin betah berlama-lama di pulau cantik ini.Menikmati keindahan alam yang ada.



Pulau Datu dapat ditempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Banjarmasin.Lokasinya tidak begitu sulit dicari, karena tidak terlalu jauh dari Pantai Batakan.Di sekitar Pantai Tanjung Dewa tepatnya di kampung Labuan, kita bisa menemui beberapa buah kapal untuk penyeberangan.




Salah satu objek menarik di Kalsel yang menawarkan dua jenis wisata, yakni wisata relijius dan wisata bahari yang mengesankan.Bagi fotograper, Pulau Datu adalah lokasi yang cocok untuk mengambil foto alam yang indah.




Bagi yang beruntung, di sekitar Pulau Datu juga akan ditemui beberapa ikan lumba-lumba berkeliaran.Benar-benar harmoni alam yang sangat layak untuk dinikmati.

Teluk Gosong : Pantai Cantik di Pesisir Kalimantan

Kunjungan ketiga ke Kotabaru membawa saya pada sebuah pantai yang masih perawan alias belum dikelola oleh pemerintah sebagai kawasan objek wisata.Bahkan saya belum pernah membaca literatur tentang pantai yang ada di desa Teluk Gosong ini di buku panduan wisata edaran Pemkab Kotabaru.Tidak seperti Pantai Gedambaan yang telah lama dikelola oleh Pemkab Kotabaru.Nggak heran kalo Pantai Gedambaan memiliki fasilitas yang lumayan lengkap seperti adanya cottage, kolam renang dll.



Tapi jujur saya lebih menyukai Pantai Teluk Gosong ini.Selain perawan, pantai yang tidak jauh dari Pantai Gedambaan ini memiliki pemandangan yang lebih eksotis.Karena pasirnya lebih putih, air lautnya jernih, ada bebatuan besar di bibir pantai & tentu saja sepi dari pengunjung.Nggak salah kalo pas lagi jalan-jalan disana saya hanya menemui beberapa anak-anak desa Teluk Gosong yang tengah mandi di pantai.



Suasana hening makin membuat saya betah berlama-lama disana.Menikmati keindahan alam yang terhampar di depan mata.Kotabaru emang sangat berpontensi untuk dijadikan daerah tujuan wisata bahari, karena di kabupaten yang berjarak sekitar 9 jam dari Banjarmasin ini memiliki banyak sekali objek wisata bahari.



Mulai dari Pantai Gedambaan, Teluk Gosong, Pantai Pulau Manti, Pantai Sungai Bulan, Pantai Teluk Aru, Pulau Samar Gelap, Pulau Cinta, taman bawah laut Teluk Tamiyang, Pulau Sebuku dan masih banyak lagi.



Upacara adat yang berkaitan dengan dunia kelautan juga beragam, salah satu contoh nya adalah Mappandoesasi.Sebuah acara yang ditujukan untuk memandikan laut.Selain acara adat, Kotabaru juga memiliki festival perahu katir di sekitar Pulau Kerayaan.Acara tersebut biasanya dilaksanakan pada bulan Juli setiap tahun.




Tidak salah memang kalo saya menempatkan Kotabaru sebagai salah satu daerah favorit sebagai lokasi berpetualang di Kalsel.Masih sangat banyak objek-objek menarik yang belum saya kunjungi.Salah satunya Pulau Samar Gelap yang katanya memiliki pesona bahari yang oke.Disana merupakan tempat penyu bertelur.Mungkin kunjungan berikutnya, saya bisa mengunjungi Pulau Samar Gelap yang ada di Kecamatan Pulau Sebuku itu.

My blog in ENGLISH, click here.

Banjarmasin, 26 Juli 2009

Menikmati Sunset di Pantai Takisung

Sebenarnya ide jalan-jalan di hari pelaksanaan Pemilu bukanlah ide dari saya pribadi.Tapi bermula dari seorang kawan bernama Mas Thoyib yang kebetulan memiliki masa libur kerja selama 3 hari.Ia beralasan kenapa tidak dimanfaatkan buat jalan-jalan, kalau libur kerja ada di depan mata.Maka berangkatlah saya, Mas Thoyib, Mba Wati, Mas Teguh, Mas Anas, Dapot, Anita, Dhani, Heri (Hersant), Saleh, Budi dan Desy.

Hingar bingar pelaksanaan Pilpres 2009, tak menyurutkan saya dan teman-teman untuk mengisi hari libur Pemilu.Banyak diantara kami yang golput, karena berbagai alas an.Yang utama adalah karena tidak terdaftar dalam DPT.


Ada dua objek wisata yang kami jelajahi, yakni Air Terjun Bajuin & Pantai Takisung.Tapi yang bahas pada postingan ini adalah tentang Pantai Takisung (khususnya suasana sunset nya).Banyak hal seru yang terjadi sebelum, saat dan setelah jalan-jalan.Seperti rapat untuk membahas segala tetek bengek transportasi, logistik, waktu dan siapa aja yang mau ikut (rapat itu lebih mirip suasana anak-anak kost kebanyakan yang sedang bergadang di malam mingguan, ribut dan kadang ngawur).Karena disela-sela rapat selalu ada saja yang melucu (yang mengakibatkan Mba Ida pemilik kost nyaris naik ke lokasi rapat untuk membubarkan forum).


Karena dari dulu saya nya sangat menyukai ama suasana matahari terbenam alias sunset, maka dengan ngotot saya menyemangati teman-teman untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Takisung.Meskipun badan pegal-pegal abis trekking, rasanya sunset di Pantai Takisung cukup menjadi alasan untuk tidak memperdulikan rasa pegal di badan itu.




Tapi diperjalanan, kami mampir untuk makan siang di sebuah warung di Jalan Samudra Pelaihari.Dari depan, warung itu terlihat sederhana dan tentunya berbudget murah meriah (prinsip perjalanan ala backpacker harus dipraktekkan saat traveling pada semi tanggung bulan kayak ini).




Seumur-umur baru kali ini saya menemui pemilik warung yang pelayanannya kasar dan ogah-ogahan—niat jualan gak sih bu?—.Masa si Anita numpang sholat aja di bilang ngerepotin dan bla bla bla.Alhasil dengan kalapnya saya tumpahin semua jenis makanan yang ada di piring ke meja makan.Kayak tulang ayam, nasi, bawang goreng, air kobokan dan kecap manis.Rasa kesal itu mengundang kemarahan saya yang berujung pada aksi pemberantakan meja makan.



Kenyang makan dan kenyang memaki-maki ibu pemilik warung makan, kami lajukan kembali mobil Avanza dan Kijang menuju Pantai Takisung.Acara umpat mengumpat terhadap ibu pemilik warung masih berlanjut di dalam mobil.Kenyang yang kami alami, tidak cukup puas untuk menghentikan aksi umpat-mengumpat itu.

Nggak kerasa Pantai Takisung ada di depan mata.Di pos masuk kawasan pantai, kami lolos dari retribusi – kali aja petugas nya lagi sibuk nyontreng, batin saya berucap bahagia –.



Pantai Takisung ternyata dipadati oleh ratusan pengunjung.Parkir sepeda motor dan mobil pun tampak rapat.Sementara matahari siang masih terlihat sangat terik.Tapi tetap aja saya ama teman-teman nekad berjalan-jalan di sekitar pantai.Dan tentu saja ideologi narsisme masih setia mengisi acara jalan-jalan di pantai.Foto-foto pun masih berlanjut.



Sunset yang menjadi salah satu fenomena alam yang saya jagokan, akhir nya datang juga.Matahari berwarna oranye menyala tepat berada di seberang lautan.Kecantikannya sangat-sangat menawan.Apalagi di sekitar pantai yang di dekat kampung nelayan, ada beberapa warga setempat yang asik memanen hasil tangkapan ikan di bibir pantai.Makin asik untuk menjepret sunset dan suasana pantai (nah bagi yang pengen ke Pantai Takisung, mending memilih lokasi di sekitar kampung nelayan yang ada pembangunan jembatan nya.Pasir nya landai, tidak terlalu banyak sampah sialan dan sepi ama wisatawan lain).



Alhasil kami pun sibuk menikmati sunset dan memilih ikan segar untuk dibawa pulang ke Banjarmasin.To all my friends, I just wanna say thanks for all of you.Kebersamaan jauh lebih baik jika dibarengi acara jalan-jalan.

Aruh Ganal Dayak Meratus di Loksado

Pengalaman mengunjungi Loksado kali ini benar-benar lebih mengesankan bila dibandingkan dengan kunjungan sebelumnya.Ada apa sih di Loksado??

Ternyata disana digelar upacara adat warga Dayak Meratus.Maka berangkat lah saya bersama tiga orang teman.Mereka semua merupakan teman yang kenal lewat internet, salah satu diantaranya adalah Jefri (Jakarta) yang saya kenal via Milis Indobackpacker.Dua teman lainnya adalah seorang fotograper Banjarmasin bernama Andri dan seorang karyawan asal Jakarta bernama Heri.Kami janjian kopi darat alias ketemuan pada jam 3 sore tanggal 13 Juni 2009 di depan Hotel Pandansari Banjarmasin dan langsung meluncur ke Loksado.

Sekitar pukul 8 malam, kami akhirnya tiba di Desa Tanuhi, Loksado.Suasana hening dan dingin segera kami rasakan.Disana-sini terlihat sangat gelap, hanya lampu-lampu temaram milik beberapa rumah penduduk saja yang terlihat menyala.Kami langsung menuju Desa Malaris yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Desa Tanuhi.



Ternyata di Balai Malaris, sudah banyak pengunjung yang meramaikan acara adat tersebut.Karena balai megah yang berbentuk rumah khas Dayak Meratus tersebut merupakan pusat pelaksanaan Aruh Ganal.Disana kami menemui Pak Amat.Seorang asli Dayak Meratus yang berprofesi sebagai guide di Loksado.Ternyata ada 3 orang turis asing yang menjadi tamu Pak Amat.Mereka berasal dari Irlandia & Amrik.



Beberapa menit kemudian, acara Aruh Ganal pun dimulai.Bunyi-bunyian dan ucapan mantra segera diperdengarkan.Aruh Ganal digelar sebagai tanda ucapan syukur warga Dayak Meratus atas hasil panen.Serta sebagai ajang doa bersama warga Dayak Meratus agar pada panen berikutnya lebih banyak hasil yang didapat serta dijauhkan dari hama perusak tanaman.

Saat berlangsung, beberapa Balian turut meramaikan Aruh Ganal.Balian merupakan kumpulan beberapa warga Dayak Meratus yang mengetahui seluk beluk upacara serta pengetahuan tentang adat istiadat.Mereka dapat mengucapkan mantra yang sangat panjang.Biasanya Balian tersebut berguru pada Balian Tuha dan belampah (semacam semedi terhadap berbagai roh halus untuk mendapatkan kesaktian tertentu).



Selama acara Balian tersebut akan dipimpin oleh Pangulu Adat (Penghulu Adat).Setiap Balian akan didampingi beberapa orang Panjulang. Panjulang adalah wanita Dayak Meratus yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian.Bahkan Panjulang dapat mengajukan berbagai permohonan warga Dayak Meratus.



Selain beberapa orang Pangulu Adat, Balian dan Panjulang, Aruh Ganal juga diramaikan oleh banyak nya sesaji berupa makanan khas, langgatan (induk ancak dan sesaji) serta beberapa buah gendang khas Dayak Meratus.



Nantinya sesaji berupa Lamang (ketan yang dimasak dengan teknik tertentu) dan makanan lainnya akan dimakan setelah semalam suntuk dibacakan mantra.Yang berhak menyantap sesaji tersebut hanya warga Dayak Meratus yang menggelar acara Aruh Ganal.



Ket.Foto terakhir adalah hasil jepretan Jefri.

Saya bersama rombongan termasuk turis Amrik & Irlandia yang ada disana hanya bisa gigit jari nggak bisa mencicipi lamang tersebut.Tapi nggak apa-apa, toh kami sangat puas dan terhibur oleh acara Aruh Ganal tersebut.Benar-benar sangat unik, mistik, kekeluargaan dan sederhana.

My blog in ENGLISH, click here.

Banjarmasin, 18 Juni 2009

From Swedia To Banjarmasin

Dunia maya memang sangat hebat.Berawal dari sebuah foto yang ada di album flickr milik saya, seorang kawan di Swedia sana tertarik mengunjungi Banjarmasin.Foto itu berisi suasana unik & khas Pasar Terapung Lok Baintan.

Kawan itu bernama Bapak Janto Marzuki.Seorang WNI yang menetap lama di negara yang berjuluk The Land of The Viking, Swedia.Pada tanggal 25 Mei 2009 kami bertemu di salah satu hotel di Banjarmasin.Pada hari yang sama kami memburu sunset di sekitar Jembatan Barito.Pak Janto tak menyia-nyiakan kamera mahal yang dia miliki.Sayang disana kami tak bisa menemui monyet berhidung mancung, Bekantan.Disana kami bertemu dengan fotograper asal Banjarmasin bernama Fikri.

Puas hunting foto, saya lalu mengajak Pak Janto & Fikri mencicipi soto Banjar di sekitar Benua Anyar.Sambil menikmati soto Banjar, Pak Janto menceritakan segala pengalaman hidupnya selama di Eropa.Termasuk ketertarikannya di dunia fotograpi & petualangan.



Besok harinya kami langsung menuju Pasar Terapung Lok Baintan di tepian Sungai Martapura.Perjalanan dengan menggunakan klotok, dapat ditempuh sekitar 1 jam.Tepat sekitar 05.30 pagi kami awali perjalanan menyusuri sungai dari depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.Perjalanan ini pun kami lakukan bersama-sama dengan Fikri.

Pak Janto seolah nggak pernah berhenti membidikkan kameranya saat klotok terus melaju.Kehidupan sungai yang sederhana ternyata sangat menarik perhatian Pak Janto yang telah lama hidup di negara maju.

Hobi fotograpi Pak Janto makin tersalurkan saat kami tiba di Pasar Terapung Lok Baintan.Betapa takjub nya ia saat menyaksikan langsung transaksi jual beli di atas sungai.Saya sangat senang melihat ekspresi bahagia Pak Janto selama di Pasar Terapung Lok Baintan.

Destinasi berikutnya adalah Pasar Cempaka.Disana ada sebuah warung penjual ikan patin bakar yang sangat enak.Kelar makan, kami langsung hunting foto di sekitar pasar bawang.Dan langsung menuju pendulangan intan di desa Pumpung, Cempaka.Tapi kali ini saya hanya berdua Pak Janto.Lagi-lagi suasana unik di pendulangan intan membuat takjub Pak Janto.Dapat ditebak, lensa kamera Nikon miliknya nggak dibiarkan begitu saja.

Destinasi terakhir adalah Pusat Pertokoan Permata Cahaya Bumi Selamat di Martapura.Besoknya Pak Janto harus pulang ke Jakarta untuk selanjutnya terbang ke Swedia.

My blog in ENGLISH, click here.

Banjarmasin, 9 Juni 2009

Menjelajah Pulau Pinus di Waduk Riam Kanan

Cerita perjalanan wisata di Desa Aranio Kabupaten Banjar, Kalsel masih berlanjut.Kali ini saya akan membahas perjalanan seru di sekitar Waduk Riam Kanan, tepatnya di Pulau Pinus.Dengan menumpang klotok (perahu kecil bermesin) saya bersama belasan teman lainnya dapat mencapai pulau kecil yang letaknya di tengah-tengah waduk itu.



Sebenarnya di Waduk Riam Kanan terdapat dua buah Pulau Pinus.Biaya sewa untuk menuju Pulau Pinus pertama hanya dikenai sebesar Rp. 75 ribu saja.Sedangkan menuju Pulau Pinus kedua dipatok sebesar Rp. 100 ribu.Berhubung rombongan kami terdiri belasan orang plus masing-masing baru gajian, maka kami dengan entengnya memilih paket yang mahal aja.

Tapi paket itu bisa sekalian mampir ke Pulau Pinus pertama.Rugi rasanya jauh-jauh ke Desa Aranio tanpa mencicipi kedua Pulau Pinus tersebut.Perjalanan menuju Pulau Pinus kedua ditempuh sekitar 30 menit.Cukup singkat memang.Karena pemandangan yang indah di sekitar waduk cukup beralasan menangkis rasa jenuh selama perjalanan.Objek pertama yang berhasil menarik perhatian saya adala jembatan kayu yang membentang panjang di atas waduk.Jembatan itu menghubungkan antara Pulau Pinus dengan daratan di seberangnya.



Beralasan memang kenapa pulau yang kami kunjungi tersebut dinamakan Pulau Pinus.Karena disana banyak sekali pohon pinus yang tumbuh tinggi menjulang.Saking banyaknya, hari cerah saat itu tidak berlaku di Pulau Pinus.Sinar matahari seakan-akan sulit menembus rimbunnya pepohonan.



Di bagian lain saya menemui beberapa penduduk yang tengah asyik memancing.Umumnya ikan yang didapat adalah ikan puyau.Ikan yang lumayan gurih kalau di goreng.Disini dijual dengan harga Rp. 10 ribu saja.Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju perkampungan di seberang pulau.Dengan menyusuri jembatan kayu yang panjangnya sekitar 200 meteran.Dari atas jembatan, saya kembali menemui pemandangan yang sangat cantik.Perbukitan hijau, air waduk yang terhampar luas berpadu dengan langit cerah yang membiru.



Setibanya di kampong seberang, saya bersama rombongan lalu tergoda mencicipi kelapa muda yang banyak ditemui disana.Untung salah teman dalam rombongan ada yang bisa memanjat pohon kelapa.Alhasil dialah yang kami nobatkan sebagai petugas memetik kelapa.Akhirnya dua buah kelapa muda berhasil kami dapatkan.

Beberapa menit kemudian kami kembali menyeberang menuju Pulau Pinus.Karena klotok yang kami sewa masih tambat di pulau itu.Ternyata di atas Pulau Pinus ada rombongan kru TV dari Jakarta yang sedang meliput Waduk Riam Kanan serta Pulau Pinus.Oleh rombongan, saya bersama dua orang teman disuruh ikut syuting dengan cara berjalan-jalan di sekitar pulau.Sementara kru TV akan merekam kegiatan kami itu.Seumur-umur baru kali ini saya direkam oleh kamera TV.



Setelah itu, kami bertiga diwawancarai oleh kru TV tersebut.Kami ditanya dengan berbagai pertanyaan.Seperti alasan apa kami mengunjungi Pulau Pinus.Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan.Dengan percaya dirinya saya langsung memberi alamat blog serta alamat email.Siapa tahu saya ditawari sebagai salah satu kru TV tersebut.Perjalanan di Waduk Riam Kanan kami akhiri dengan minum es kelapa muda di sekitar dermaga Desa Aranio.Disana ternyata banyak sekali mobil wisatawan terparkir di sekitar dermaga.Menandakan geliat pariwisata Kalsel makin bergairah.

My blog in ENGLISH, click here.

Banjarmasin, 16 Mei 2009