Sebenarnya ide jalan-jalan di hari pelaksanaan Pemilu bukanlah ide dari saya pribadi.Tapi bermula dari seorang kawan bernama Mas Thoyib yang kebetulan memiliki masa libur kerja selama 3 hari.Ia beralasan kenapa tidak dimanfaatkan buat jalan-jalan, kalau libur kerja ada di depan mata.Maka berangkatlah saya, Mas Thoyib, Mba Wati, Mas Teguh, Mas Anas, Dapot, Anita, Dhani, Heri (Hersant), Saleh, Budi dan Desy.
Hingar bingar pelaksanaan Pilpres 2009, tak menyurutkan saya dan teman-teman untuk mengisi hari libur Pemilu.Banyak diantara kami yang golput, karena berbagai alas an.Yang utama adalah karena tidak terdaftar dalam DPT.
Ada dua objek wisata yang kami jelajahi, yakni Air Terjun Bajuin & Pantai Takisung.Tapi yang bahas pada postingan ini adalah tentang Pantai Takisung (khususnya suasana sunset nya).Banyak hal seru yang terjadi sebelum, saat dan setelah jalan-jalan.Seperti rapat untuk membahas segala tetek bengek transportasi, logistik, waktu dan siapa aja yang mau ikut (rapat itu lebih mirip suasana anak-anak kost kebanyakan yang sedang bergadang di malam mingguan, ribut dan kadang ngawur).Karena disela-sela rapat selalu ada saja yang melucu (yang mengakibatkan Mba Ida pemilik kost nyaris naik ke lokasi rapat untuk membubarkan forum).
Karena dari dulu saya nya sangat menyukai ama suasana matahari terbenam alias sunset, maka dengan ngotot saya menyemangati teman-teman untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Takisung.Meskipun badan pegal-pegal abis trekking, rasanya sunset di Pantai Takisung cukup menjadi alasan untuk tidak memperdulikan rasa pegal di badan itu.
Tapi diperjalanan, kami mampir untuk makan siang di sebuah warung di Jalan Samudra Pelaihari.Dari depan, warung itu terlihat sederhana dan tentunya berbudget murah meriah (prinsip perjalanan ala backpacker harus dipraktekkan saat traveling pada semi tanggung bulan kayak ini).
Seumur-umur baru kali ini saya menemui pemilik warung yang pelayanannya kasar dan ogah-ogahan—niat jualan gak sih bu?—.Masa si Anita numpang sholat aja di bilang ngerepotin dan bla bla bla.Alhasil dengan kalapnya saya tumpahin semua jenis makanan yang ada di piring ke meja makan.Kayak tulang ayam, nasi, bawang goreng, air kobokan dan kecap manis.Rasa kesal itu mengundang kemarahan saya yang berujung pada aksi pemberantakan meja makan.
Kenyang makan dan kenyang memaki-maki ibu pemilik warung makan, kami lajukan kembali mobil Avanza dan Kijang menuju Pantai Takisung.Acara umpat mengumpat terhadap ibu pemilik warung masih berlanjut di dalam mobil.Kenyang yang kami alami, tidak cukup puas untuk menghentikan aksi umpat-mengumpat itu.
Nggak kerasa Pantai Takisung ada di depan mata.Di pos masuk kawasan pantai, kami lolos dari retribusi – kali aja petugas nya lagi sibuk nyontreng, batin saya berucap bahagia –.
Pantai Takisung ternyata dipadati oleh ratusan pengunjung.Parkir sepeda motor dan mobil pun tampak rapat.Sementara matahari siang masih terlihat sangat terik.Tapi tetap aja saya ama teman-teman nekad berjalan-jalan di sekitar pantai.Dan tentu saja ideologi narsisme masih setia mengisi acara jalan-jalan di pantai.Foto-foto pun masih berlanjut.
Sunset yang menjadi salah satu fenomena alam yang saya jagokan, akhir nya datang juga.Matahari berwarna oranye menyala tepat berada di seberang lautan.Kecantikannya sangat-sangat menawan.Apalagi di sekitar pantai yang di dekat kampung nelayan, ada beberapa warga setempat yang asik memanen hasil tangkapan ikan di bibir pantai.Makin asik untuk menjepret sunset dan suasana pantai (nah bagi yang pengen ke Pantai Takisung, mending memilih lokasi di sekitar kampung nelayan yang ada pembangunan jembatan nya.Pasir nya landai, tidak terlalu banyak sampah sialan dan sepi ama wisatawan lain).

Alhasil kami pun sibuk menikmati sunset dan memilih ikan segar untuk dibawa pulang ke Banjarmasin.To all my friends, I just wanna say thanks for all of you.Kebersamaan jauh lebih baik jika dibarengi acara jalan-jalan.


